Kamis, 16 Januari 2014

"Sebuah seruan"


“ Sebuah seruan”
                                                                                                                 
Oleh: Dersa subarta

Sebuah seruan yang terdengar dari hati menyayup-nyayup, malam itu aku bangkit dengan membuka dua mata ingin sekali aku laksanakan seruan itu,tapi jiwaku tak sedikitpun tergugah dengan seruan itu. lalu aku coba untuk berdiri sejenak untuk mengguga jiwaku agar bisa bergerak bebas dan melaksanakan seruan itu.
Setelah berdiri aku mati kutu nggak bisa melaksanakan seruan itu cuaca semakin dingin dengan diiringi tiupan angin malam yang menyengat hingga ketulang membuatku bertambah jauh dari seruan hati.
Meskipun aku tak sedikitpun menoleh pada seruan itu tapi ai terus barzikir dan menyebutkan-menyebut nama sang Mahabbah. ia berzikir tak pernah lelah ia ucapkan kata-kata mahabbah " ana uhibbukum...wa ana uhibbukum..." begitulah katanya.
***
Tampak jelas terdengar di telingaku perkataan itu mengisyaratkan pada kerinduan. kata-kata mahabbah yang membuat rindu dan kata-kata itu jugalah yang membuat hati menjadi risau dan memanggil-manggil namanya.
Tiba-tiba malam semakinp kelam pekat mata terasa hendak menutup melepas lela mengarungi kehidupan, pikiranpun terbayang pada suatu objek yang menjadi sasaran yaitu selimu ungu untuk menghilangkan rasa dingin yang menusuk hingga ketulang ”em,,dingin sekali malam ini, kamu memang ngangenin ya habibati”ujarku sambil kedinginan. Tanpa ku sadari mata telah terpejam tubuhku kaku dalam selimut cuaca beruba sangat segnifikan membuatku menjadi hangat dan melupakan sebuah seruan hati. Pada saat itu pula aku berkata ”besok aku akan membuka mata kembali untuk seharian penuh tanpa sedikitpun aku menutupnya dan akanku cari kata-kata yang memanggil-manggil jiwa ini meski jawa adalah taruhannya”.
Itulah seruan cinta, cinta pada kehendak diri yang ingin selalu senang dan bahagia. Selimutpun bisa membuat kita bahagia saat kita menginginkannya. Apalah arti sebuah selimut pada musim panas dan sangat berharga pada musim dingin. Ternyata seruan itu memanggil untuk merenggut sebuah selimut kesayangan.
***

Tidak ada komentar: