Jumat, 31 Januari 2014
Kamis, 30 Januari 2014
Kasih Sayang
Kasih Sayang
“Dan Apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes air (mani), Maka tiba-tiba ia menjadi pembangkang yang nyata!. (Q.S. Yaasiin :77).
Manusia
diciptakan dari setetes air mani, air yang tak memiliki nilai, yang jika kita
mau membawanya ke pasar untuk dihargai, tak akan ada seorang pun yang ingin
membelinya. Namun, dengan kasih sayang dan rahmat Allah air mani yang tak
memiliki nilai di hadapan manusia dijadikan suatu bentuk yang paling indah (ahsani
taqwiim), dan menjaga air mani tersebut di tempat yang bernama rahim
seorang ibu (qororin makiin), yang akal manusia tak pernah dapat
membayangkan bagaimana penjagaan Allah di tempat itu, bagaimana pula Allah
memberikan rezeki kepada sang bayi yang dia sendiri tak bisa berbuat apa-apa
untuk mendapatkan rezekinya. Setelah lahir sang bayi masih belum bisa berbuat
apa-apa untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Maka Allah
pun mengilhamkan kepada sang bayi bagaimana cara agar mendapatkan keinginannya
dengan cara menangis, dengan tangisan yang dikeluarkannya orang-orang di
sekeliling sang bayi pun menjadi tahu bahwa ada yang diinginkan oleh sang bayi.
Seiring
dengan berjalannya waktu yang juga disertai dengan nikmat dari Allah, air mani
yang tak memiliki nilai tersebut menjadi seorang yang dewasa, dengan ahsani
taqwim dan akal yang ada dalam dirinya telah mampu berusaha untuk
mendapatkan segala kebutuhan dan keinginannya. Segala cara dilakukan, yang
terkadang banyak dari cara-cara tersebut yang sadar atau tidak dia melanggar
aturan Allah, Tuhan Yang menjaga dan memenuhi kebutuhannya di saat masih dalam
keadaan bayi. Kini dengan segala karunia yang Allah berikan kepadanya dia
justru menjadi pembangkang yang nyata (khosiimum mubiin). Sering sekali
dia menuruti hawa nafsunya hanya untuk kebahagiaan yang semu, atau hanya untuk
terlihat hebat dan mendapatkan kemuliaan di hadapan manusia.
Hawa
nafsu yang membimbingnya ke jalan yang penuh kehinaan dan hati yang penuh
dengan kegelapan, menjadikan pembakang yang nyata semakin jauh dari Tuhan yang
sejak dahulu sampai saat dia menjadi pembakang yang nyata masih terus
memberikan berbagai karunia kepadanya. Jika si pembangkang yang nyata itu mau
merenung, bagaimana bisa dia menjadi seorang pembangkang sementara karunia
terus dia terima?, bagaimana mungkin si pembangkang yang nyata itu merasa aman
dari Tuhan yang tak pernah luput sesuatu apa pun dari pengawasan-Nya?, dan
apakah dia juga lupa bahwa dahulu dia tak berdaya dan kelak akan kembali tak
berdaya?.
Namun
lagi-lagi Allah dengan rahmat dan karunia-Nya tak menghisab pembakang yang
nyata itu dengan keadilan-Nya semata, tapi Allah juga menghisab disertai dengan
Rahmat-Nya Yang Meliputi Segala Sesuatu, sehingga seandainya Allah
menghukumnya, sungguh hukuman tersebut ringan dibandingkan yang seharusnya dia
terima. Dan Allah senantiasa menuggu si pembangkang yang nyata itu untuk
bertobat kembali kepada-Nya. Wahai khosimum mubiin sadar dan kembalilah
kepada jalan Dzat Yang Maha Kasih Sayang….Wahai setetes mani yang tak bernilai
sadar dan kembalilah kepada jalan Dzat Yang Telah menjadikanmu dengan bentuk
yang paling indah…Wahai makhluk yang lemah bertobatlah yang jika engkau
bergembira atas tobatmu, sungguh Allah lebih gembira atas tobatmu…
“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji
atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun
terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari
pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka
mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga
yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan
Itulah Sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (Q.S. Ali Imran 135-26).
“Sesungguhnya Allah lebih gembira menerima taubat
hamba-Nya ketika dia bertaubat kepada-Nya, daripada kegembiraan seseorang yang
mengendarai binatang tunggangannya, kemudian binatang tunggangan itu hilang di
padang yang luas, sedangkan di atas binatang itu bekalan makanan dan minumannya
hingga dia rasa berputus asa daripada menemuinya kembali. Lalu dia berteduh di
bawah sepohon kayu dengan perasaan putus asa daripada mendapatkannya kembali.
Dalam keadaan itu, tiba-tiba muncul di sisinya binatang tunggangannya yang
hilang tadi dan dengan segera dia memegang talinya seraya berkata dengan penuh
gembira, “Ya Allah, Engkaulah hambaku dan aku tuhanmu,” dia tersalah sebut
kerana terlalu gembira.” (HR.Muslim)
Selasa, 28 Januari 2014
Hari Yang Tak Bersahabat
Oleh : Dersa Subarta
Bagaimana kujelaskan perasaan ini yang selalu menghantui,terkadang
perasaan itu membisikkan kabar gembira dan berbayangkan keindahan ,tak jarang
ku dengar kata-kata manis yang kau lontarkan sebagai penghangat hasrat cinta
yang aku alami tapi, kenapa semuanya jadi beruba?pertanyaan ini tentu membuatku
terluka dalam ruang dan waktu yang berbeda. Hari-hari yang penuh kerinduan
tiada bertepi, membuat hati terasa gunda dan menyepi. Rasanya ingin sekali
kubuang rasa itu karna ia telah menjadi benalu dalam hidup ini. ”tidak, aku
harus pergi dari rasa yang berwajah delima dan berhati dilema”.ujar aku kesal.
“jika engkau biarkan
perasaan itu menyelam terlalu dalam maka akan membuatmu tak berarti dan diabaikan” sahut aku kembali dengan
kekesalannya.
“iya betul kamu tak
akan berarti dimatanya” sahut galau.
“mulai sekarang
pantaskan diri anda untuk dipilih oleh wanita-wanita terhebat”ujar kecewa.
“baiklah akan aku
buktikan kepantasanku untuk dipilih oleh wanita-wanita hebat karna dulu aku
dipilih kok sekarang aku yang memilih?”.jawab aku mencoba tegar.
Rasa itu terus disibukkan olah gejolak pada
kegaluahan,kerisauan,dan kegalauan. Senja pun pergi menghinglang dan menemui
kelam malam yang tak bersahabat pada rasa, hasrat, dan kenginan.
Hari-hari sudah tak lagi bersahabat pada hasrat yang kian cemburu
pada dunia yang tak sependapat padanya hingga malam memisahkan hasrat dan
rindu itu.
Kamis, 23 Januari 2014
Cerpen “BAGAIMANA CINTA?” Oleh : Dersa Subarta
“Bagaimana Cinta?”
Oleh : Dersa Subarta
Bagaimana ku jelaskan
cinta karena itu tak dapat di jabarkan, sesuatu yang indah terlahir dari rasa,
dan rasa itu karunia Ilahi. Malam selalu
memandangku dan memanggil hasrat dalam jiwa ini. Rasa itu pernah singgah dihati
yang penuh kegaluhan ini. Kata cinta telah menjadi ukiran disetiap hati para
remaja saat ini telah membuat hidup bercampur rasa dan karsa.
Suatu hari aku kenalkan
cinta pada diri ini dengan harapan dapat memberikan keindahan tapi ternyata
banyak duri yang menyakitkan pada cinta di tengah perjalanan, apa yang
diharapkan tak seperti dengan kenyataan. Kegaluahan datang menghantam sehingga
hati pun berbicara” inikah dunia cinta?”. “Iya ini dunia cinta” jawab hasrat
dengan menampakkan keseriusan.
“Kenapa cinta tak seindah
yang terpikir dalam benak ku ya?”Tanya hati kembali karena heran akan kenyataan
cinta yang datang. “itu karna cinta yang datang belum pada waktu yang tepat dan
membutuhkan waktu yang panjang untuk berjuang sampai cinta itu menjadi
halal”sangga hasrat dengan sepontan.
Hati terdiam memebisu merenungi kata-kata yang
dilontarkan oleh lisan hasrat,hal ini tentu akan membuatnya berpikir panjang
jika cinta itu datang dalam konteks yang sama. Pagi itu aku berjalan mendaki,
menerjal bebatuan menuju gunung kaba karna cinta yang begitu besar pada Mapala
membuatku terasa bahagia saat bersamamu.
Ku tatap matamu dari kejauhan, sehingga hasrat semakin penasaran akan
keanggunanmu dan melontarkan kata-kata indah yang penuh cita rasa bahagia. Sembari
melangkah terbayang keanggunanmu disana yang berdiri dengan mempesona akan
tetapi tempatmu begitu jauh dan
aku membutuhkan waktu yang pajang dan melelahkan untuk bersamamu Kaba.
Aku terus berjalan
mendaki dengan berjuta perasaan bahagia membuat hati menjadi gembira bersama
hasrat nan bahagia. Sepanjang perjalanan aku bernyanyi-nyanyi bersama
kawan-kawan yang sama-sama dihinggapi rasa cinta pada Kaba yang membahana.
Ditengah kebahagiaan itu tiba-tiba langit menjadi mendung dan berawan, tak lama
kemudian langit menampakkan kecemburuannya pada kami yang mencintai Kaba
sedangkan langit juga indah yang tak dihiraukan sehingga langkah tertati-tati
untuk mewujudkan rasa dan karsa pada cinta yang membuat bahagia.
Sepanjang perjalanan kami
bermandikan air mata langit yang membasahi kujuran butuh yang penuh semangat
menggapai cita pada puncak Gunung Kaba dengan harapan ada kebahagiaan padanya.
Dalam perjalanan itu
sering kali kami terjatuh mengejar waktu untuk meraih keindahan itu. Tapi apa
yang terbayang pada benak kami tidak ada pada kenyataan karena bencana selalu
menghantam. Dari langit terus bersedih mengucurkan air mata karna kepergiaan
kami menuju yang lain ,angin badai pun ikut menerpa sebagai penghalang langkah
kami namun tak sedikitpun ada rasa untuk pergi dari keindahan yang kami cintai
pada Gunung Kaba.
pada waktu itu karena
kami tidak membawa bekal yang cukup dan pakaian yang cocok pada situasi dan
kondisi kala itu.
Pada hasrat tersimpan
berjuta harapan akan keindahan yang terpancar oleh sangsurya pada pucak Gunung
Kaba karena cinta kami begitu berharga pada dunia yang menantang pengalaman
hidup dan keanggunan seni padamu Kaba. Terlintas runtukkan pada hati yang
kecewa” kenapa ya setiap cinta ini menggebu padamu Alam, langit selalu
cemburu?”.ujar hati penuh kesal pada tingkah langit yang CBU. Mendengar kata
itu langit menangis semakin keras dan memecahkan perasaan cinta menjadi
berkeping-keping bagaikan pepulauan di Indonesia yang beragam warna dan
perasaan.
“apakah ini perasaan
cinta,jika dilanda kegaluhan?”kata hasrat yang kecewa.
“tidak, cinta itu indah
dan bahagia bukan menyusah dan sengsara tapi cinta sering mengajarkan kita
untuk menikmati kesusahan dan kesengsaraan sebagai bentuk perjuangan cinta”. Sahut
rasa sebagai motivator dari dalam jiwa yang dipenuhi berbagai macam warna yang
menjadi pemisah antara cinta dan bahagia. Meski berbagai macam badai penghalang
dan dalam nya jurang pemisah kami tetap semangat sehingga pada akhirnya kami
menemukan cinta itu pada Kaba meski tak begitu indah tapi, sangat berharga
Cerpen ini adalah karya seorang mahasiswa pecinta Alam STAIS-BS sebagai seni sastra yang tertuang dalam cerita pendek tapi sangat berkesan bagi pendaki pertama pada MAPALA STAIS Bumi silampari.
Langganan:
Postingan (Atom)

