HIDAYAH
1. Pengertian Hidayah
Kata Hidayah adalah dari bahasa Arab atau
bahasa Al-Qur’an yang telah menjadi bahasa Indonesia. Akar katanya ialah :
hadaa, yahdii, hadyan, hudan, hidyatan, hidaayatan. Khusus yang terakhir, kata
hidaayatan kalau wakaf (berhenti) di baca : Hidayah, nyaris seperti ucapan
bahasa Indonesia. Hidayah secara bahasa berarti petunjuk. Lawan katanya adalah
: “Dholalah” yang berarti “kesesatan”. Secara istilah (terminologi), Hidayah
ialah penjelasan dan petunjuk jalan yang akan menyampaikan kepada tujuan
sehingga meraih kemenangan di sisi Allah. Allah berfirman yang artinya:
“Mereka
itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan Pencipta mereka, dan (sebab itu)
merekalah orang-orang yang beruntung (sukses)” (Q.S. Al-Baqarah: 5)
2.
Macam-Macam Hidayah
Para Ulama besar Islam telah menjelaskan dengan
rinci dan mendalam perihal Hidayah, khususnya yang diambil dari Al-Qur’an
seperti yang ditulis oleh Al-Balkhi dalam bukunya “Al-Asybah wa An-Nazho-ir”,
Yahya Ibnu Salam dalam bukunya“At-Tashoriif”,As-Suyuthi dalam bukunya “Al-Itqon”
dan Ibnul Qoyyim Al-Jawzi dalam bukunya “Nuzhatu Al-A’yun An-Nawazhir”.
Hidayah/Hudan Dalam Al-Qur’an tercantum sekitar
171 ayat dan terdapat pula dalam 52 Hadits. Sedangkan pengertian Hidayah /
Hudan dalam Al-Qur’an dan Hadits terdapat sekitar 27 makna. Di antaranya
bermakna : penjelasan, agama Islam, Iman (keyakinan), seruan, pengetahuan,
perintah, lurus/cerdas, rasul /kitab, Al-Qur’an, Taurat, taufiq/ketepatan,
menegakkan argumentasi, Tauhid/ mengesakan Allah, Sunnah/Jalan, perbaikan,
ilham/insting, kemampuan menilai, pengajaran, karunia, mendorong, mati dalam
Islam, pahala, mengingatkan, benar dan kokoh/konsisten.
Dari 27 pengertian tersebut, sesungguhnya
Hidayah secara umum, terbagi menjadi empat bagian utama, yaitu:
a. Hidayah I’tiqodiyah Petunjuk Terkait
Keyakinan Hidup
Allah
berfirman, yang artinya:
“Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk (keyakinan hidup), maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong”. (Q.S. An-Nahl : 37)
dan
Allah juga berfirman, yang artinya:
“Dan seorang laki-laki yang beriman di antara
pengikut-pengikut Firaun yang menyembunyikan imannya berkata: “Apakah kamu akan
membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: “Tuhan Penciptaku ialah
Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan
dari Tuhan Penciptamu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung
(dosa) dustanya itu; dan (tetapi) jika ia seorang yang benar niscaya sebagian
(bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu”. Sesungguhnya Allah tidak
memberikan petunjuk (hidayah) kepada orang-orang yang melampaui batas lagi
pendusta (penolak kebenaran yang datang dari-Nya)”. (Q.S. Al-Mu’min: 28)
b.
Hidayah Thoriqiyah
Petunjuk Terkait Jalan Hidup, yakni Islam yang didasari Al-Qur’an dan Sunnah Rasul Saw
Petunjuk Terkait Jalan Hidup, yakni Islam yang didasari Al-Qur’an dan Sunnah Rasul Saw
seperti
firman Allah, yang artinya:
“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan
syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka
membantah kamu dalam urusan (syariat) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu.
Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus (Islam)”. (Q.S.
Al-Hajj: 67)
atau
seperti firman Allah, yang artinya:
“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu
dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan
pun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti
sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan
sesungguhnya telah datang petunjuk (Islam Al-Qur’an) kepada mereka dari Tuhan
mereka”. (Q.S. Annajm: 23)
c.
Hidayah ‘Amaliyah
Petunjuk Terkait Aktivitas Hidup
Petunjuk Terkait Aktivitas Hidup
seperti
firman Allah, yang artinya:
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari
keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan
Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat
baik.” (Q.S. Al-Ankabut: 69)
d.
Hidayah Fithriyah
Hidayah Fithriyah ini terkait dengan
kecenderungan alami yang Allah tanamkan dalam diri manusia untuk meyakini Tuhan
Pencipta, mentauhidkan-Nya dan melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk diri
mereka. Realisasinya tergantung atas pilihan dan keinginan mereka sendiri.
Sumbernya adalah Qalb (hati nurani) dan akal fikiran yang masih bersih
(fithriyah) sebagaimana yang dialami oleh Nabi Ibrahim. Allah menjelaskan dalam
firmannya:
Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia
berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata:
“Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku
termasuk orang-orang yang sesat”. (Q.S. Al-An’am: 77)