Jumat, 17 Januari 2014

HALAMAN PERSEMBAHAN

HALAMAN PERSEMBAHAN


Karya ini saya persembahkan untuk:
-Ibu dan ayah ku yang telah memberikan kasih sayang, kepedulian, dan pendidikan kepada saya. Mereka yang telah membesarkan saya dan mengorbankan segalanya demi anaknya yang tercinta sehingga saya bisa hidup mandiri dan seperti ini. Ibu dan ayah mendidik saya dengan nilai-nilai yang positif dan mereka selalu memberikan yang terbaik keda saya.
-Guru-guru ku yang telah mendidik dan membimbing saya dalam hal ilmu pengetahuan.
-Teman-teman ku yang telah member motivasi kepada saya.
-Adik-adik ku yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian sehingga saya bias menyeleaikan salah satu tugas niha’ie yaitu paper.







BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Kalau kita perhatikan orang yang selalu membaca memiliki ilmu pengetahuan luas oleh karna itu membaca menduduki posisi yang  amat penting dalam mencari ilmu sehingga dengan  ilmu itu akan membentuk karakter seseorang sesuai dengan apa yang ia dapat dari bacaan yang di baca tersebut .
Membaca dalam bahasa arab yaitu قراْ - يقراْ kata ini juga di pakai dalam Al-Qur’an yang diseru oleh malaikat jibril untuk mengajarkan firman Allah kepada nabi yang terakhir yaitu Muhammad SAW. Di kisahkan dalam sebuah hadits tentang perintah untuk membaca ketika itu Rosulullah SAW sedang bertahannust di gowa hira’. Di gowa hiro’ beliau beribadah kepada Allah hingga suatu ketika datang kepadanya Al-Haqq ( kebenaran atau wahyu), yaitu sewaktu beliau masih berada di dalam gowa hiro’ itu.”malaikat datang kepada beliau lalu berkata,”bacalah” jawab Nabi, saya tidak pandai membaca. Lalu malaikat memeluknya dan melepaskannya kembali sebanyak tiga kali pertanyaan yang sama di lontarkan jibril kepada beliau dan jawaban yang di lontarkan beliau juga sama dengan jawaban yang pertama. Kemudian jibril berkata ”iqro’ bismirobbikal-lazi khalaq, khalaqal-insana min ‘alaq, iqro’ wa robbukal-akram, Allazi ‘alamabil-qalam”bacalah dengan (menyebut )nama Tuhanmu yang menciptakan, yang telah mencitakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Mahamulia. Yang mengajarkan (manusia) dengan pena. QS. Al-‘alaq:1-4.
Dengan demikian yang pertama sekali dibaca oleh rosul adalah Al-Qur’an sehingga apa yang dilakukan oleh Muhammad berlandaskan Al-Qur’an. Dia tidak punya norma dalam kehidupannya kecuali norma yang ada dalam Al-Qur’an, tidak berbicara kecuali dengan perkataan yang di bacanya dalam Al-Qur’an, tidak bertindak kecuali atas perintah Allah melalui wahyu-NYA yaitu Al-Qur’an yang dibaca kepadanya, tidaklah ia mendapatkan ilmu kecuali dengan membaca Al-Qur’an. Sehingga Nabi memiliki keperibadian yang baik dan karkter yang terpuji. Oleh sebab itu penulis mengambil judul paper yaitu Pengaruh membaca Al-Qur’an terhadap pembentukan karakter santri  dengan landasan fakta yang ada di pondok ini sebagai tempat penelitan penulis.
B.     Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang yang ada maka penulis data merumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Adakah pengaruh membaca Al-Qur’an terhadap pembentukan karakter santri ?
2.      Seberaa besar pengaruh membaca al-qur’an terhadap pembentukan karakter santri
      C. Batasan Masalah
Untuk memberi batasan masalah sehingga pembahasannya lebih terarah, maka penulis membatasi ruang lingkup penelitian ini menjadi dua variabel yang merupakan titik perhatian suatu penelitian.
Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan penelitian. Sedangkan menurut Arikunto, mengatakan bahwa variabel adalah apa saja yang menjadi titik perhatian suatu penelitian.
Tabel 1.1
Indikator Variabel X dan Y

VARIABEL X (Disiplin)
VARIABEL Y (Pengembangan Karakter)
1. Pengertian membaca dan Al-Qur’an?
2. nama-nama Al-Qur’an?
3. Fungsi Al-Qur’an ?
1. Pengertian Karakter
2. Tipe Karakter Manusia
3. Unsur dalam pembentukan Karakter

D. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak dicapai oleh penulis dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh membaca Al-Qur’an terhadap  pembentukan karakter santri kelas I Exprimen A pondok peantren Al-Azhaar?.
2.  Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh membaca Al-Qur’an terhadap   pembentukan karakter santri kelas I Exprimen A ondok pesantren Al-Azhaar?
E. Manfaat Penelitian
Penulis harapkan dengan karya tulis (paper) ini yang berjudul “ Pengaruh membaca     Al-Qur’an  Terhadap Pembentukan Karakter santri” diharapkan dapat memberi manfaat  bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Sebagai motivator bagi kita agar selalu gemar membaca Al-Qur’an
2. Sebagai masukan bagi guru, untuk memberikan masukan nasihat dan semangat kepada siswa untuk gemar membaca Al-Qur’an
3.Untuk dapat membaca Al-Qur’an dengan baik.
F. Penjelasan Istilah
 Untuk menghindari berbagai macam masalah dan penafsiran yang berbeda-beda dalam penelitian ini maka penulis menjelaskan beberapa istilah  secara keseluruhan untuk mempermudah istilah pokok dalam judul paper ini.
Adapun penjelasan mengenai judul paper ini sebagai berikut:
1. Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang, benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang 
2. membaca adalah memahami isi dari apa yang tertulis
3. Terhadap adalah kata depan untuk menandai arah kepada lawan
4. Pembentukan adalah proses, cara, perbuatan, dan usaha 
5. Karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain, tabi’at,



BAB II
LANDASAN TEORI
A.    Variabel x

Membaca adalah penyebutan huruf atau susunan kata yang membentuk kalimat secara tertulis menjadi sebuah pemahaman baik itu berbentuk real maupun abstrak yang dapat memberikan pemahaman dan pengaruh dalam bertindak bagi para pembaca maupun pendengar. Menurut kamus besar bahasa Indonesia membaca adalah memehami isi dari apa yang tertulis.
Defenisi Al- Qur’an
a.      Segi bahasa
Dari segi bahasa, Qur’an berasal dari kata qara’a, yang berarti menghimpun dan menyatukan. Sedangkan Qira’a  berarti menghimpun huruf-huruf dan kata-kata yang satu dengan yang lainnya dengan susunan yang rapih. (Al-Qattan, 1995: 20). Mengenai hal ini, Allah berfirman dalam QS. Al Qiyamah (75) ayat 17-18:
“Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya(di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. (Al Qiyamah: 17) 
Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. (Al Qiyamah: 18)
Qur’an, secara bahasa dapat pula  berarti “bacaan”, sebagai masdar dari kata qara’a. Dalam arti seperti ini, firman Allah SWT dalam Q.S.Fushshilat(41) ayat3:
“Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui.”
      b. Secara Istilah.
                Adapun dari segi istilahnya, Dr. Subhi Al Salih mendefinisikan Al-Qur'an sebagai berikut, Al-Qur’an adalah:
AlQur’an adalah Kalamullah yang merupakan mu’jizat yang ditunukan kepada nabi Muhammad SAW, yang disampaikan kepada kita secara mutawatir dan dijadikan membacanya sebagai ibadah.
Adapun Muhammad 'Ali ash-Shabuni mendefinisikan Al-Qur'an sebagai berikut: "Al-Qur'an adalah firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad  penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s. dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas"
Nama-nama Al-Qur’an
Al-Qur’an (Al Isra' (17) ayat : 9)
Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. (Surat Al Isra’ ayat 9)
Nama-nama Lain Al Qur'an
    1.    Al Kitab (Kitab)
"Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa," Q.S. Al Baqarah (2) : 2
     2.   Al Furqan (Pembeda)
 QS. Al Furqaan (25) : 1
Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam,

    3.    Adz Dzikr (Pemberi Peringatan/Pelajaran) 
QS. Al Hijr (15) : 9

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Ad Dzikr (Al Qur’an), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.
QS. Al Qamar (54) : 17
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? 
     4.   Mau 'idhoh (Pelajaran)
QS. Ali Imron (3) : 138
(Al Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
Q.S. Yunus (10) : 57
"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman."
    5.    Al Hukm (Hukum)
Q.S. Ra'd (13) : 37
"Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Hukm (Al Qur'an) itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah."
     6.   Hikmah (Kebijaksanaan) :
 Q.S. Al Isra' (17) : 39

"Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhan kepadamu. Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah)."
  
      7.   Al Huda (Petunjuk)
QS. Al Baqarah (2) : 2, 185
Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)…........
 Q.S. Al Jin (72) : 13
"Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al Qur'an), kami beriman kepadanya. Barang siapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan."
 Q.S. At Taubah (9) : 33

"Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur'an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai."
     8.   At Tanzil
Alasan Al-Qur'an diberi nama dengan At-Tanzil, sebagaimana tertera dalam firman Allah SWT:
Dan sesungguhnya Al Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, (Asy-Su'arâ (26) : 192)
dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril), (Asy-Su'arâ (26) : 193)
   9.  Ar Rahmah (Rahmat)
         QS. Al Israa’ (17) : 82
Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang lalim selain kerugian.
Ruh, QS. Al Mu’min (40) : 15
(Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai Arasy, Yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat),
  10.  Al Bayan (Penerang)
 Q.S. Ali Imran (3) :138
(Al Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
   11.   Kalam (Firman)
Q.S. Taubah (9) : 6
"Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui."
   12. Busyro (Berita Gembira), QS. An Nahl (16) : 89
(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami, bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.
   13. An-Nur (cahaya)
Q.S. An Nisa' (4):174 
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur'an).
   14. Al-Basha'ir (Pedoman):
Q.S. Al Jaatsiyah (45) :20
Al Qur'an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.
    15. Al-Balagh (penyampaian/kabar)
Q.S. 14:52
(Al Qur'an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.
   16.  Al-Qaul (perkataan/ucapan)
Q.S. Al Qashash 28:51
Dan sesungguhnya telah Kami turunkan berturut-turut perkataan ini (Al Qur'an) kepada mereka agar mereka mendapat pelajaran.
   17.  Al Haq (Kebenaran)                                                                                      
QS. Al Baqarah (2) : 147
Kebenaran (Al Qur'an) itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.
A.    Karakteristik Al-Qur’ an
Diturunkan bukan untuk menyusahkan manusia [ 20:2].
Bacaan yang teramat mulia dan terpelihara [56: 77-78] .
Tidak seorang pun yang dapat menandingi keindahan dan keagungan Al-Qur’an [2:23, 17:88] .
Tersusun secara terperinci dan rapi [11:1] .
Mudah difahami dan diambil pelajaran [54: 17, 34, dst]
B.     Fungsi Al-Qur’an
Sebagai Pengganti kedudukan kitab suci sebelumnya yang pernah diturunkan Allah SWT
Sebagai Tuntunan serta hukum untuk menempuh kehidupan
Menjelaskan masalah-masalah yang pernah diperselisihkan oleh umat terdahulu
1.      Sebagai Obat

Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan (Alquran itu) tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”. (Al-Isra' (17): 82).
2.      Petunjuk pada jalan yang lurus
Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberi petunjuk pada jalan yang amat lurus. (Al-Isrâ (17) ayat 9.
3.      Al-Qur’an Sebagai Minhajul Hayah (Pedoman Hidup)
 Konsepsi inilah yang pada akhirnya dapat mengeluarkan umat manusia dari kejahiliyahan menuju cahaya Islam. Dari kondisi tidak bermoral menjadi memiliki moral yang sangat mulia. Dan sejarah telah membuktikan hal ini terjadi pada sahabat Rasulullah SAW. Sayid Qutub mengemukakan (1993 : 14) :
“Bahwa sebuah generasi telah terlahir dari da’wah –yaitu generasi sahabat –yang memiliki keistimewaan tersendiri dalam sejarah umat Islam, bahkan dalam sejarah umat manusia secara keseluruhan. Generasi seperti ini tidak muncul kedua kalinya ke atas dunia ini sebagaimana mereka… Meskipun tidak disangkal adanya beberapa individu yang dapat menyamai mereka, namun tidak sama sekalisejumlah besar sebagaimana sahabat dalam satu kurun waktu tertentu, sebagaiamana yang terjadi pada periode awal dari kehidupan da’wah ini…” 
Cukuplah kesaksian Rasulullah SAW menjadi bukti kemulyaan mereka, manakala beliau mengatakan dalam sebuah haditsnya:
“Dari Imran bin Hushain ra, Rasulullah SAW bersabda: ‘Sebaik-baik kalian adalah generasi yang ada pada masaku (para sahabat) , kemudian generasi yang berikutnya (tabi’in), kemudian generasi yang berikutnya lagi (atba’ut tabiin). (HR. Bukhari)”
Imam Nawawi secara jelas mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan ‘generasi
pada masaku’ adalah sahabat Rasulullah SAW. Dalam hadits lain, Rasulullah SAW juga mengemukakan mengenai keutamaan sahabat:
Dari Abu Sa’id al-Khudri ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku.Karena sekiranya salah seorang diantara kalian menginfakkan emas sebesar gunung uhud, niscaya ia tidak akan dapat menyamai keimanan mereka, bahkan menyamai setengahnya pun tidak. (HR. Bukhari).
Sayid Qutub mengemukakan (1993 : 14 – 23) , terdapat tiga hal yang melatar belakangi para sahabat sehingga mereka dapat menjadi khairul qurun, yang tiada duanya di dunia ini. Secara ringkasnya adalah sebagai berikut: pertama,karena mereka menjadikan Al-Qur'an sebagai satu-satunya sumber petunjuk jalan, guna menjadi pegangan hidup mereka, dan mereka membuang jauh-jauh berbagai sumber lainnya. Kedua, ketika mereka membacanya, mereka tidak memiliki tujuan untuk tsaqofah, pengetahuan, menikmati keindahannya dan lain sebainya. Namun mereka membacanya hanya untuk mengimplementaikan apa yang diinginkan oleh Allah dalam kehidupan mereka. Ketiga, mereka membuang jauh-jauh segala hal yang berhubungan dengan masa lalu ketika jahiliah. Mereka memandang bahwa Islam merupakan titik tolak perubahan, yang sama sekali terpisah dengan masa lalu, baik yang bersifat pemikiran maupun budaya.
Dengan ketiga hal inilah, generasi sahabat muncul sebagai generasi terindah yang pernah terlahir ke dunia ini. Di sebabkan karena ‘ketotalitasan’ mereka ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an, yang dilandasi sebuah keyakinan yang sangat mengakar dalam lubuk sanubari mereka yang teramat dalam, bahwa hanya Al-Qur’an lah satu-satunya pedoman hidup yang mampu mengantarkan manusia pada kebahagiaan hakiki baik di dunia maupun di akhirat.
           Kewajiban kita terhadap Al-Qur’an
1.      Membaca
Kewajiban kita adalah senantiasa membaca Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an dengan penuh pemahaman akan menumbuhkan kegemaran kepada Al-Qur’an dan kecintaan kepada Allah. Dengan membaca Al-Qur’an kita akan mendapatkan ketenangan dan ketenteraman. Rasulullah SAW berabda:
Artinya: “hendaklah kamu senantiasa membaca Al-Qur’an, karena Al-    Qur’an   itu cahaya petunjuk bagi kamu di bumi dan simpanan untukmu di langit.”
2.      Mempelajari Al-Qur’an
Seorang muslim diharuskan untuk terus-menerus mempelajari Al-Qur’an. Dalam pengantar kitab tafsir Al-Kasyaf, imam zamakhsyari berpendapat, dahwa mempeljari tafsir Al-Qur’an merupakan pardhu’ain.
3.      Mengajarkan dan mengamalkan kandungan Al-Qur’an
Telah disampaikan diatas bahwa Al-Qur’an adalah pedoman hidup, berisikan sejarah yang dapat kita jadikan kaca perbandingkan di masa-masa yang akan datang. Oleh sebab itu lah kita dianjurkan untuk mengamal isi kandungan Al-Qur’an dengan mengamalkan nya hidu kita akan memjadi terarah dan lembut dalam bersikap serta memiliki akhlak yang mulia baik di mata Allah maupun dimata manusia. Kemudian agar orang yang mengamalkannya tidak terputus kita diharuskan mengajarkannya kepada genersi kita sehingga mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber dari tindakan merekan dengan demikian kita telah membentuk karakter yang baik kepada mereka karena orang yang sering membaca Al-Qur’an akan berbeda perilakunya dengan orang yang membaca selain Al-Qur’an sebab Al-Qur’an yang berisikan pengetahuan tang luas mencakup seluru aspek kehidapan. Dengan mengajarkan Al-Qur’an akan menghalang perkataan seorang perlemen di inggris yaitu bahwa islam tidak akan hancur dengan cara-cara militer. Tapi islam akan hancur dengan menjauhkan umatnya dari Al-Qur’an. Mereka tidak mengharapkan orang islam itu pindah agama, yang merek inginkan bagainama cara berpikir, bersikap, berperilaku jauh dari Al-Qur’an.
B.     Variabel y
Pembentukan Karakter
Secara umum, karakter diartikan sebagai “watak, tabiat, akhlak atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues)”. Akar kata karakter bisa dilacak pada bahasa latin, kharassein dan kharax yang berarti tools for makingto engrave, dan pointed stake. Pada abad ke-14,  kata ini populer digunakan dalam Bahasa Perancis, ‘caractere’, kemudian masuk ke dalam Bahasa Inggris menjadi “character” selanjutnya menjadi Bahasa Indonesia, “karakter”. Dalam bahasa Indonesia, karakter dapat diartikan sebagai sifat-sifat, tabiat, atau watak kejiwaan. Kamus Arab-Inggris “Al-Mawrid” karya Ba’albaki, mendefinisikan karakter sebagai tabiat atau sifat. Secara lebih luas, al-Khuli memaknai karakter sebagai kesatuan ciri-ciri pribadi seseorang yang melekat selamanya.
Berdasarkan definisi tersebut, pendidikan karakter diartikan sebagai pendidikan yang berorientasi pada penanaman watak, tabiat, akhlak atau kepribadian yang mulia. Walaupun istilah karakter bukan hanya bermakna positif, tapi istilah pendidikan karakter ditujukan untuk membangun pendidikan yang positif. Secara lebih luas dan mendalam, pendidikan karakter diartikan sebagai:
“Proses pembentukan jati diri manusia yang dilakukan dengan cara membangun kualitas logika, akhlak, dan keimanan. Pembentukannya diarahkan pada proses pembebasan manusia dari ketidakmampuan, ketidak benaran, ketidak jujuran, ketidak adilan dan dari buruknya akhlak dan keimanan. Dengan proses tersebut, diharapkan terbentuk jati diri manusia yang berwatak, berakhlak, dan bermartabat.”
Berdasarkan penjelasan tersebut, pendidikan karakter berorientasi pada pengembangan fungsi akal dan hati yang sehat yang akan membentuk akhlak peserta didik yang mulia, yaitu akhlak kepada Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan alam sekitar.  Hal ini dipertegas oleh penjelasan lain tentang pendidikan karakter, yakni pendidikan budi pekerti plus yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Pendidikan karakter yang diduga dicetuskan pertama kali oleh pedagog Jerman FW Foerster (1869-1966) menekankan dimensi etis spiritual dalam proses pembentukan pribadi peserta didik.Dengan demikian, akan lebih baik kalau nilai-nilai agama dilibatkan dalam pengembangannya.
Dalam prakteknya, pendidikan karakter harus memenuhi tiga proses berikut, yaitu proses pemberdayaan (empowering) potensi peserta didik, proses humanisasi (humanizing), dan proses pembudayaan (civilizing). Sebagai proses pemberdayaan, pendidikan karakter harus mendorong pemberdayaan dan pengembangan peserta didik sehingga mereka menyadari dirinya sebagai makhluk yang mempunyai banyak potensi. Sebagai proses humanisasi, pembentukan karakter harus mampu menyadarkan manusia sebagai manusia. Dengan demikian proses pendidikan tidak menjadikan peserta didik sebagai objek atau robot bagi orang dewasa, tapi sebaliknya mendorong mereka menjadi subjek yang bebas, mandiri, dan kritis. “pembentukan karakter haruslah mampu menyadarkan peserta didik tentang eksistensi dirinya dan tentang realitas sosialnya, dan untuk selanjutnya, dengan kesadarannya, peserta didik bersama-sama pendidik melakukan perubahan ke arah kehidupan yang lebih baik.” Sebagai proses pembudayaan, pembentukan karakter “membantu membangun sistem pengetahuan, nilai-nilai, sistem keyakinan, norma-norma, tradisi atau kebiasaan, peraturan yang koheren dan berguna bagi individu, sekolah, keluarga, masyarakat, dan bagi bangsa dan negara sebagai satu kesatuan sehingga terbentuk kelompok masyarakat yang beradab.”
Agar pembentukan karakter bisa berfungsi semestinya, tiga basis desain sangat diperlukan:
(1) desain pembentukan karakter berbasis kelas. “Desain ini berbasis pada relasi guru sebagai pendidik dan siswa sebagai pembelajar di dalam kelas”, (2) desain pembentukan karakter berbasis kultur sekolah. “Desain ini mencoba membangun kultur sekolah yang mampu membentuk karakter anak didik dengan bantuan pranata sosial sekolah agar nilai tertentu terbentuk dan terbatinkan dalam diri siswa”, dan
(3) desain pembentukan karakter berbasis komunitas. “Dalam mendidik, komunitas sekolah tidak berjuang sendirian. Masyarakat di luar lembaga pendidikan, seperti keluarga, masyarakat umum, dan negara, juga memiliki tanggung jawab moral untuk mengintegrasikan pembentukan karakter dalam konteks kehidupan mereka”.
Karakter para anak didik di Indonesia sudah banyak melenceng dari norma-norma agama. Sebab para pendidik di Indonesia hanya bisa menyiapkan peserta didik untuk mencapai kejenjang yang lebih tinggi sehingga akhlak seorang anak tidak lagi diperhatikan. Sedangkan kita mengetahui betapa pentingnya karakter bangsa sebagai kuallitas SDM karena kualitas karakter bangsa menentukan kemajuan suatu bangsa. Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan di bina sejak usia dini. Usia merupakan kerisis bagi pembentukan karakter seseorang. Menurut frued kegagalan penanaman keperibadian yang baik di usia dini ini akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasa kelak. Kesukesan orang tua dalam membimbing anaknya  dalam mengatasi konflik keperibadian di usia dini sangat menentukan kesuksesan anak dalam kehidupan social di masa dewasanya kelak.(Erikson, 1968).
C.    Hubungan xy
Pendidikan sejak dulunya tidak pernah lepas dari pentingnya tradisi membaca. Baik membaca dalam arti luas ataupun dalam arti yang sempit. Membaca dalam arti luas berarti peka, jeli dan kritis terhadap setiap realitas dan segala sesuatu yang mengundang otak untuk melakukan analisis. Sedangkan dalam arti sempit, membaca adalah bergaul secara inten dengan teks. Bergaul inten berarti bukan sekedar membaca, namun lebih kepada kemampuan untuk menangkap setiap pesan yang tersurat ataupun yang tersirat pada sebuah teks. Sehingga jauh setelah itu, pembaca akan memiliki pemahaman yang mendalam terhadap sebuah teks. Dan yang paling penting, pemahaman dari hasil pikiran ini mampu menjadi sesuatu yang hidup dalam diri pembaca. Artinya, teks yang dibaca dapat memberikan pengaruh yang signifikan bagi pembacanya.
Lalu apa korelasi antara pendidikan, membaca dan karakter? Secara singkat, penulis berasumsi bahwa pendidikan merupakan salah satu wahana pembentukan karakter. Kemudian membaca (dalam arti sempit) merupakan sesuatu yang sulit dipisahkan dari proses pendidikan. Jadi, salah satu metode pembentukan karakter seseorang dalam proses pendidikan adalah dengan menjalin hubungan secara inten dengan teks atau bacaan. Proses seperti ini akan memberikan kebebasan kepada anak didik untuk memilih karakter mana yang disukainya. Anda selaku pendidik hanya perlu mengawasi perkembangan mereka setiap saat, tentu saja dengan bimbingan yang tidak kalah inten dengan semangat mereka membaca. Karena arahan para pendidik yang mencerahkan akan senantiasa mereka nantikan saat kejenuhan mulai hinggap di sela-sela semangat mereka untuk menemukan jati diri.
Namun masalah kembali timbul ketika ada pertanyaan tentang sejauh mana antusiasme peserta didik untuk membaca. Masalah ini sama besarnya dengan masalah kita selaku individu yang enggan membaca. Sementara kita tahu bahwa membaca selalu terasa lebih berkualitas dan nikmat ketimbang menonton film. Pengaruhnya terasa lebih hidup dalam jiwa kita ketimbang saat menonton film atau mendengarkan ceramah para guru yang terhormat di depan kelas. Misalnya saat membaca Qur’an, kita akan cepat hafal dan ingatan akan menuju pada huruf yang kita baca serta akan tertanam lebih dalam di benak kita dalam waktu yang lama. Ingatan seperti inilah yang penulis sebut sebagai teks yang senantiasa hidup dalam diri pembaca. Jadi, alasan ini harus diketahui oleh para pemalas baca, paling tidak ini akan jadi motivasi bagi mereka atau kita.
Lemahnya minat baca kita secara umum, baik anak didik, siswa, mahasiswa, guru dan dosen berakibat pada banyak hal dalam kehidupan kita sehari-hari. Membaca merupakan kebutuhan pokok. Apabila kebutuhan membaca tidak tercukupi, maka akan terjadi kegersangan intelektual yang luar biasa di dunia pendidikan dalam skala luas. Kegersangan ini akan berakibat buruk bagi kualitas pendidikan di Indonesia. Bagi para pendidik yang berada di bawah panji Lembaga Pendidikan Islam, ada satu hal lagi yang harus mereka perhatikan, yaitu minat baca terhadap kitab suci (Al Qur’an). Karena jarang sekali kita jumpai (di Indonesia) seorang muslim yang membaca Al Qur’an di tempat-tempat umum seperti bandara, stasiun, taman kota dan lain-lain. Tidak seperti saudara setanah air kita yang Kristen, mereka terlihat membawa Injil kebanggaan mereka kemana-mana dan membacanya dimana saja mereka punya waktu luang.
Mungkin saja Al Qur’an terlalu mulia untuk dibawa kemana-mana, toh umat Muhammad SAW ini punya tata cara tersendiri dalam memperlakukan kitab sucinya yang agung. Jadi cukuplah mereka membacanya di tempat-tempat ibadah mereka yang suci, atau di rumah mereka masing-masing. Dan budaya ini mungkin tidak bisa disamakan dengan budaya umat Kristen yang sangat bangga dengan Kitab Sucinya dimanapun mereka berada. Tetapi, jika umat Islam benar-benar sudah kehilangan budaya membaca dan memahami Al Qur’an, maka bukan hanya kegersangan intelektual yang akan mereka alami, tetapi kegersangan spiritual yang akibatnya akan lebih berbahaya dari hanya kegersangan intelektual.
Pembentukan karakter melalui teks Al-Qur’an akan lebih baik dan memiliki pengaruh yang signifikan. Budaya membaca Al-Qur’an akan membantu para orang tua dan guru dalam membentuk karakter yang baik terhadap seorang anak. Tetapi paling tidak, dua bahaya  berupa kegersangan intelektual dan spiritual bisa kita hindari sedikit dan makin selesai.
Mengapa Al-Qur’an dibukukan atau dikitabkan? Bukankan ini berarti bahwa Al-Qur’an itu penting bagi orang-orang yang berfikir?
Tidak mau membaca Kitab Suci berarti tidak peduli pada Firman Tuhan. Sedangkan Al-Qur’an adalah pedoman kehidupan oleh sebab, itu siapapun yang membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar akan memiliki ilmu yang luas baik tentang ketuhanan dan sejarah para nabi maupun ilmu yang berhubungan dengan ilmu-ilmu sains, bialogi, politik, dan karakter. Dengan demikian membaca Al-Qur’an akan memberikan dampak yang positif kepada peserta didik atau santri sehingga ia akan memberi pengaruh yang sangat signifikan dalam pembentukan karakter santri.  
Generasi kita akan mengalami kegersangan intelektual dan spiritual sepanjang masa jika tidak di didik dengan membaca Al-Qur’an.







BAB III
METODE PENELITIAN
A.      Metode Pengumpulan data
a.    Metode Observasi
Observasi adalah salah satu cara penelitian yang berguna untuk mengumpulkan data dengan menggunakan kekuatan pengamatan.
b.   Metode Angket
Metode angket adalah daftar pertanyaan tertulis yang digunakan untuk pengumpulan data dari responden, adapun juga metode angket  yang penulis gunakan dalam penelitian ini ialah angket terbuka, dimana respondennya diberi kebebasan untuk memberi jawaban  sesuai dengan fakta yang dilakukan mereka.
c.    Metode Populasi
Metode populasi adalah subyek penelitian yang mencangkup semua elemen dan ansur-absurnya. Peneliti menggunakan penelitian populasi yaitu berarti penulis mengambil seluruh santri pondok pesantern Al-Azhaar.


d.   Metode Sampel
Metode sampel adalah sebagian obyek penelitian memiliki kemampuan mewakili seluruh data (populasi). Penulis menggunakan penelitian sampel yaitu penulis mengambil sebagian santriwan dan santriwati yang ada di pondok pesantren Al-Azhaar ini. Dengan semua metode inilah yang penulis gunakan agar mendapatkan data-data yang jelas dan bukan hanya sekedar mengarang saja, akan tetapi mengambil dan mendapatkan data dengan bukti dan realita.
B.       Tehnik Analisa Data
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan analis statistic yang diperoleh dari menyebar angket kepada 16 orang santriwan yang ada di pondok pesantren Al-Azhaar ini. Maksud dari penganalisaan data ini ialah mempore]oleh hasil yang jelas dan untuk membuktikan serta menguji kebenaran hipotesis yang diajukan yaitu: "Pengaruh membaca Al-Qur’an terhadap pembentukan karakter  Santri"
1.      Variabel-variabel yang Diteliti
X        : membaca Al-Qur’an
Y        : pembentukan karakter




TABEL I
JUMLAH SANTRIWAN
PONDOK PEASANTREN AL-AZHAAR LUBUKLINGGAU SUMATERA SELATAN
No
Jumlah
Keterangan
1
16
Santriwan





DAFTAR PUSTAKA


Syaikh Abul Abbas Zainuddin Ahmad bin Ahmad bin Abdul Latif Asy Syiraji Az- zubaidi
Judul buku: at-Tajridush sharih LI Ahadisil Jami’ish shahih.
Drs. H. Muhammad Zuhri judul buku: terjemah hadist shahih bukhari terbitan jumadil akhir 1428 H

Suryabrata,2005. Metode Penelitian, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
 Arikunto, 2002, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta hal 96.
Lukman Ali, Kamus besar bahasa Indonesia,(Jakarta: balai pustaka, 1995), hal. 747
 Ibid hal.333
 Ibid hal. 473
 Kamus lengkap bahasa Indonesia.
Penyusun: Dessy Anwar
Cetakan  : I, 2002
Penerbit: AMELIA Surabaya

Judul buku: belajar efektif aqidah akhlak
Penerbit      : PT. INTIMEDIA CIPTANUSANTARA
Halaman     : 22-34
Buku pelajaran Al-Qur’an Hadits untuk kls VIII
penyusun: Drs.H.D.Moh. Yasir, M. Ag
Penrbit dan percetakan: CV Sahabat Pendididkan karakter menjawab tantangan multidimensional, masnur muslich. PT.bumi aksara. Cetakan pertama, mei 2012
Buku Pendidikan karakter menjawab multidimensional.
Mediah al-hikmah