“ Sebuah seruan”
Oleh: Dersa subarta
Sebuah seruan yang terdengar dari
hati menyayup-nyayup, malam itu aku bangkit dengan membuka dua mata ingin
sekali aku laksanakan seruan itu,tapi jiwaku tak sedikitpun tergugah dengan
seruan itu. lalu aku coba untuk berdiri sejenak untuk mengguga jiwaku agar bisa
bergerak bebas dan melaksanakan seruan itu.
Setelah berdiri aku mati kutu
nggak bisa melaksanakan seruan itu cuaca semakin dingin dengan diiringi tiupan
angin malam yang menyengat hingga ketulang membuatku bertambah jauh dari seruan
hati.
Meskipun aku tak sedikitpun
menoleh pada seruan itu tapi ai terus barzikir dan menyebutkan-menyebut nama
sang Mahabbah. ia berzikir tak pernah lelah ia ucapkan kata-kata mahabbah "
ana uhibbukum...wa ana uhibbukum..." begitulah katanya.
***
Tampak jelas terdengar di
telingaku perkataan itu mengisyaratkan pada kerinduan. kata-kata mahabbah yang
membuat rindu dan kata-kata itu jugalah yang membuat hati menjadi risau dan
memanggil-manggil namanya.
Tiba-tiba malam semakinp kelam
pekat mata terasa hendak menutup melepas lela mengarungi kehidupan, pikiranpun
terbayang pada suatu objek yang menjadi sasaran yaitu selimu ungu untuk menghilangkan
rasa dingin yang menusuk hingga ketulang ”em,,dingin sekali malam ini, kamu
memang ngangenin ya habibati”ujarku sambil kedinginan. Tanpa ku sadari mata
telah terpejam tubuhku kaku dalam selimut cuaca beruba sangat segnifikan
membuatku menjadi hangat dan melupakan sebuah seruan hati. Pada saat itu pula
aku berkata ”besok aku akan membuka mata kembali untuk seharian penuh tanpa
sedikitpun aku menutupnya dan akanku cari kata-kata yang memanggil-manggil jiwa
ini meski jawa adalah taruhannya”.
Itulah seruan cinta, cinta pada
kehendak diri yang ingin selalu senang dan bahagia. Selimutpun bisa membuat
kita bahagia saat kita menginginkannya. Apalah arti sebuah selimut pada musim
panas dan sangat berharga pada musim dingin. Ternyata seruan itu memanggil
untuk merenggut sebuah selimut kesayangan.
***
