HALAMAN PERSEMBAHAN
Karya ini saya persembahkan untuk:
-Ibu dan ayah ku yang telah memberikan kasih sayang, kepedulian, dan pendidikan kepada saya. Mereka yang telah membesarkan saya dan mengorbankan segalanya demi anaknya yang tercinta sehingga saya bisa hidup mandiri dan seperti ini. Ibu dan ayah mendidik saya dengan nilai-nilai yang positif dan mereka selalu memberikan yang terbaik keda saya.
-Guru-guru ku yang telah mendidik dan membimbing saya dalam hal ilmu pengetahuan.
-Teman-teman ku yang telah member motivasi kepada saya.
-Adik-adik ku yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian sehingga saya bias menyeleaikan salah satu tugas niha’ie yaitu paper.
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Kalau kita perhatikan orang yang
selalu membaca memiliki ilmu pengetahuan luas oleh karna itu membaca menduduki
posisi yang amat penting dalam mencari
ilmu sehingga dengan ilmu itu akan
membentuk karakter seseorang sesuai dengan apa yang ia dapat dari bacaan yang
di baca tersebut .
Membaca dalam bahasa arab yaitu قراْ - يقراْ
kata ini juga di pakai dalam Al-Qur’an yang diseru oleh malaikat jibril untuk
mengajarkan firman Allah kepada nabi yang terakhir yaitu Muhammad SAW. Di
kisahkan dalam sebuah hadits tentang perintah untuk membaca ketika itu Rosulullah SAW sedang bertahannust
di gowa hira’. Di gowa hiro’ beliau beribadah kepada Allah hingga suatu ketika
datang kepadanya Al-Haqq ( kebenaran atau wahyu), yaitu sewaktu beliau masih
berada di dalam gowa hiro’ itu.”malaikat datang kepada beliau lalu
berkata,”bacalah” jawab Nabi, saya tidak pandai membaca. Lalu malaikat
memeluknya dan melepaskannya kembali sebanyak tiga kali pertanyaan yang sama di
lontarkan jibril kepada beliau dan jawaban yang di lontarkan beliau juga sama
dengan jawaban yang pertama. Kemudian jibril berkata ”iqro’ bismirobbikal-lazi
khalaq, khalaqal-insana min ‘alaq, iqro’ wa robbukal-akram, Allazi
‘alamabil-qalam”bacalah dengan (menyebut )nama Tuhanmu yang menciptakan, yang
telah mencitakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang
Mahamulia. Yang mengajarkan (manusia) dengan pena. QS. Al-‘alaq:1-4.
Dengan demikian yang pertama sekali dibaca oleh rosul adalah Al-Qur’an
sehingga apa yang dilakukan oleh Muhammad berlandaskan Al-Qur’an. Dia tidak
punya norma dalam kehidupannya kecuali norma yang ada dalam Al-Qur’an, tidak
berbicara kecuali dengan perkataan yang di bacanya dalam Al-Qur’an, tidak
bertindak kecuali atas perintah Allah melalui wahyu-NYA yaitu Al-Qur’an yang
dibaca kepadanya, tidaklah ia mendapatkan ilmu kecuali dengan membaca
Al-Qur’an. Sehingga Nabi memiliki keperibadian yang baik dan karkter yang
terpuji. Oleh sebab itu penulis mengambil judul paper yaitu
Pengaruh membaca Al-Qur’an terhadap pembentukan karakter santri dengan landasan fakta yang ada di pondok ini
sebagai tempat penelitan penulis.
B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang yang ada maka penulis data merumuskan
masalah sebagai berikut:
1.
Adakah
pengaruh membaca Al-Qur’an terhadap pembentukan karakter santri ?
2.
Seberaa
besar pengaruh membaca al-qur’an terhadap pembentukan karakter santri
C. Batasan Masalah
Untuk memberi
batasan masalah sehingga pembahasannya lebih terarah, maka penulis membatasi
ruang lingkup penelitian ini menjadi dua variabel yang merupakan titik
perhatian suatu penelitian.
Variabel
penelitian adalah segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan penelitian.
Sedangkan menurut Arikunto, mengatakan bahwa variabel adalah apa saja yang
menjadi titik perhatian suatu penelitian.
Tabel
1.1
Indikator
Variabel X dan Y
VARIABEL X
(Disiplin)
|
VARIABEL Y
(Pengembangan Karakter)
|
1. Pengertian
membaca dan Al-Qur’an?
2. nama-nama
Al-Qur’an?
3. Fungsi Al-Qur’an
?
|
1. Pengertian
Karakter
2. Tipe
Karakter Manusia
3. Unsur
dalam pembentukan Karakter
|
D. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak dicapai oleh penulis dalam penelitian ini
adalah:
1. Untuk
mengetahui ada tidaknya pengaruh membaca Al-Qur’an terhadap pembentukan karakter santri kelas I Exprimen
A pondok peantren Al-Azhaar?.
2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh
membaca Al-Qur’an terhadap pembentukan
karakter santri kelas I Exprimen A ondok pesantren Al-Azhaar?
E. Manfaat
Penelitian
Penulis
harapkan dengan karya tulis (paper) ini yang berjudul “ Pengaruh membaca Al-Qur’an
Terhadap Pembentukan Karakter santri” diharapkan dapat memberi
manfaat bagi penulis khususnya dan
pembaca pada umumnya. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Sebagai
motivator bagi kita agar selalu gemar membaca Al-Qur’an
2. Sebagai
masukan bagi guru, untuk memberikan masukan nasihat dan semangat kepada siswa
untuk gemar membaca Al-Qur’an
3.Untuk dapat membaca
Al-Qur’an dengan baik.
F. Penjelasan
Istilah
Untuk menghindari berbagai macam masalah dan
penafsiran yang berbeda-beda dalam penelitian ini maka penulis menjelaskan
beberapa istilah secara keseluruhan
untuk mempermudah istilah pokok dalam judul paper ini.
Adapun
penjelasan mengenai judul paper ini sebagai berikut:
1. Pengaruh
adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang, benda) yang ikut
membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang
2. membaca adalah memahami isi dari apa yang tertulis
5. Karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti
yang membedakan seseorang dari yang lain, tabi’at,
BAB II
LANDASAN TEORI
A.
Variabel x
Membaca adalah penyebutan huruf atau susunan kata yang membentuk kalimat
secara tertulis menjadi sebuah
pemahaman baik itu berbentuk real maupun abstrak yang dapat memberikan pemahaman dan pengaruh
dalam bertindak bagi para pembaca maupun pendengar. Menurut kamus besar bahasa Indonesia
membaca adalah memehami isi dari apa yang tertulis.
Defenisi Al- Qur’an
a. Segi bahasa
Dari segi bahasa, Qur’an berasal
dari kata qara’a, yang berarti menghimpun dan menyatukan.
Sedangkan Qira’a berarti menghimpun huruf-huruf dan
kata-kata yang satu dengan yang lainnya dengan susunan yang rapih.
(Al-Qattan, 1995: 20). Mengenai hal ini, Allah berfirman dalam QS. Al Qiyamah
(75) ayat 17-18:
“Sesungguhnya
atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya(di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.
(Al Qiyamah: 17)
Apabila Kami telah selesai membacakannya
maka ikutilah bacaannya itu. (Al Qiyamah: 18)
Qur’an, secara
bahasa dapat pula berarti “bacaan”, sebagai masdar dari
kata qara’a. Dalam arti seperti ini, firman Allah SWT dalam Q.S.Fushshilat(41) ayat3:
“Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni
bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui.”
b. Secara
Istilah.
Adapun dari segi istilahnya, Dr.
Subhi Al Salih mendefinisikan Al-Qur'an sebagai berikut, Al-Qur’an adalah:
AlQur’an adalah Kalamullah yang merupakan mu’jizat yang ditunukan kepada
nabi Muhammad SAW, yang disampaikan kepada kita secara mutawatir dan
dijadikan membacanya sebagai ibadah.
Adapun Muhammad 'Ali ash-Shabuni mendefinisikan Al-Qur'an sebagai berikut: "Al-Qur'an
adalah firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi
Muhammad penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat
Jibril a.s. dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada
kita secara mutawatir, serta membaca dan mempelajarinya merupakan ibadah, yang
dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas"
Nama-nama
Al-Qur’an
Al-Qur’an
(Al Isra' (17) ayat : 9)
Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih
lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal
saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. (Surat Al Isra’ ayat 9)
Nama-nama Lain Al Qur'an
1. Al Kitab (Kitab)
"Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada
keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa," Q.S. Al Baqarah (2)
: 2
2. Al Furqan (Pembeda)
QS. Al Furqaan (25) : 1
Maha Suci
Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia
menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam,
3. Adz Dzikr (Pemberi
Peringatan/Pelajaran)
QS. Al Hijr
(15) : 9
Sesungguhnya
Kami-lah yang menurunkan Ad Dzikr (Al Qur’an), dan sesungguhnya Kami
benar-benar memeliharanya.
QS. Al
Qamar (54) : 17
Dan
sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang
yang mengambil pelajaran?
4. Mau 'idhoh (Pelajaran)
QS. Ali
Imron (3) : 138
(Al Qur’an)
ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi
orang-orang yang bertakwa.
Q.S. Yunus (10) : 57
"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari
Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan
petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman."
5. Al Hukm (Hukum)
Q.S. Ra'd
(13) : 37
"Dan demikianlah,
Kami telah menurunkan Al Hukm (Al Qur'an) itu sebagai peraturan (yang benar)
dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah
datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan
pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah."
6.
Hikmah (Kebijaksanaan) :
Q.S. Al Isra' (17) : 39
"Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhan kepadamu. Dan janganlah
kamu mengadakan tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu
dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat
Allah)."
7. Al Huda (Petunjuk)
QS. Al Baqarah (2) : 2, 185
Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di
dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan
yang batil)…........
Q.S. Al
Jin (72) : 13
"Dan
sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al Qur'an), kami beriman
kepadanya. Barang siapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan
pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan."
Q.S. At Taubah (9) : 33
"Dialah
yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur'an) dan agama
yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang
musyrik tidak menyukai."
8. At Tanzil
Alasan
Al-Qur'an diberi nama dengan At-Tanzil, sebagaimana tertera dalam
firman Allah SWT:
Dan
sesungguhnya Al Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta
alam, (Asy-Su'arâ (26) : 192)
dia dibawa
turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril), (Asy-Su'arâ (26) : 193)
9. Ar Rahmah (Rahmat)
QS. Al
Israa’ (17) : 82
Dan Kami
turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang
yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang lalim
selain kerugian.
Ruh, QS. Al Mu’min (40) : 15
(Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai Arasy, Yang
mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya
di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari
pertemuan (hari kiamat),
10.
Al Bayan (Penerang)
Q.S. Ali Imran (3) :138
(Al Qur'an)
ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi
orang-orang yang bertakwa.
11. Kalam (Firman)
Q.S. Taubah
(9) : 6
"Dan
jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu,
maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian
antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum
yang tidak mengetahui."
12. Busyro
(Berita Gembira), QS. An Nahl (16) : 89
(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami, bangkitkan pada tiap-tiap umat
seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu
(Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk
menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi
orang-orang yang berserah diri.
13. An-Nur
(cahaya)
Q.S. An
Nisa' (4):174
Hai
manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu,
(Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang
terang benderang (Al Qur'an).
14. Al-Basha'ir
(Pedoman):
Q.S. Al
Jaatsiyah (45) :20
Al Qur'an
ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.
15. Al-Balagh
(penyampaian/kabar)
Q.S. 14:52
(Al Qur'an)
ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi
peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan
Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.
16. Al-Qaul (perkataan/ucapan)
Q.S. Al
Qashash 28:51
Dan
sesungguhnya telah Kami turunkan berturut-turut perkataan ini (Al Qur'an)
kepada mereka agar mereka mendapat pelajaran.
17. Al Haq (Kebenaran)
QS. Al
Baqarah (2) : 147
Kebenaran
(Al Qur'an) itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu
termasuk orang-orang yang ragu.
A. Karakteristik Al-Qur’ an
Diturunkan
bukan untuk menyusahkan manusia [ 20:2].
Bacaan yang
teramat mulia dan terpelihara [56: 77-78] .
Tidak seorang
pun yang dapat menandingi keindahan dan keagungan Al-Qur’an [2:23, 17:88] .
Tersusun
secara terperinci dan rapi [11:1] .
Mudah
difahami dan diambil pelajaran [54: 17, 34, dst]
B.
Fungsi Al-Qur’an
Sebagai Pengganti kedudukan kitab suci sebelumnya
yang pernah diturunkan Allah SWT
Sebagai Tuntunan serta hukum untuk menempuh
kehidupan
Menjelaskan
masalah-masalah yang pernah diperselisihkan oleh umat terdahulu
1. Sebagai Obat
Dan Kami
turunkan dari Alquran suatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang
beriman, dan (Alquran itu) tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim
selain kerugian”. (Al-Isra' (17): 82).
2. Petunjuk pada jalan yang lurus
Sesungguhnya
Al-Qur'an ini memberi petunjuk pada jalan yang amat lurus. (Al-Isrâ (17)
ayat 9.
3. Al-Qur’an Sebagai Minhajul
Hayah (Pedoman Hidup)
Konsepsi inilah yang pada akhirnya dapat
mengeluarkan umat manusia dari kejahiliyahan menuju cahaya Islam. Dari kondisi
tidak bermoral menjadi memiliki moral yang sangat mulia. Dan sejarah telah
membuktikan hal ini terjadi pada sahabat Rasulullah SAW. Sayid Qutub
mengemukakan (1993 : 14) :
“Bahwa
sebuah generasi telah terlahir dari da’wah –yaitu generasi sahabat
–yang memiliki keistimewaan tersendiri dalam sejarah umat Islam, bahkan
dalam sejarah umat manusia secara keseluruhan. Generasi seperti ini tidak
muncul kedua kalinya ke atas dunia ini sebagaimana mereka… Meskipun tidak
disangkal adanya beberapa individu yang dapat menyamai mereka, namun tidak
sama sekalisejumlah besar sebagaimana sahabat dalam satu kurun waktu
tertentu, sebagaiamana yang terjadi pada periode awal dari kehidupan
da’wah ini…”
Cukuplah
kesaksian Rasulullah SAW menjadi bukti kemulyaan mereka, manakala beliau
mengatakan dalam sebuah haditsnya:
“Dari Imran bin Hushain ra, Rasulullah SAW bersabda: ‘Sebaik-baik kalian
adalah generasi yang ada pada masaku (para sahabat) , kemudian
generasi yang berikutnya (tabi’in), kemudian generasi yang berikutnya lagi
(atba’ut tabiin). (HR.
Bukhari)”
Imam Nawawi
secara jelas mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan ‘generasi
pada
masaku’ adalah sahabat Rasulullah SAW. Dalam hadits lain, Rasulullah
SAW juga mengemukakan mengenai keutamaan sahabat:
Dari Abu Sa’id al-Khudri ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Janganlah kalian
mencela sahabat-sahabatku.Karena sekiranya salah seorang diantara kalian
menginfakkan emas sebesar gunung uhud, niscaya ia tidak akan dapat
menyamai keimanan mereka, bahkan menyamai setengahnya pun tidak. (HR.
Bukhari).
Sayid Qutub mengemukakan (1993 : 14 – 23) , terdapat tiga hal yang melatar
belakangi para sahabat sehingga mereka dapat menjadi khairul qurun,
yang tiada duanya di dunia ini. Secara ringkasnya adalah sebagai berikut: pertama,karena
mereka menjadikan Al-Qur'an sebagai satu-satunya sumber petunjuk jalan, guna
menjadi pegangan hidup mereka, dan mereka membuang jauh-jauh berbagai sumber
lainnya. Kedua, ketika mereka membacanya, mereka tidak memiliki
tujuan untuk tsaqofah, pengetahuan, menikmati keindahannya dan lain sebainya.
Namun mereka membacanya hanya untuk mengimplementaikan apa yang diinginkan oleh
Allah dalam kehidupan mereka. Ketiga, mereka membuang jauh-jauh
segala hal yang berhubungan dengan masa lalu ketika jahiliah. Mereka memandang
bahwa Islam merupakan titik tolak perubahan, yang sama sekali terpisah dengan
masa lalu, baik yang bersifat pemikiran maupun budaya.
Dengan
ketiga hal inilah, generasi sahabat muncul sebagai generasi terindah yang
pernah terlahir ke dunia ini. Di sebabkan karena ‘ketotalitasan’ mereka ketika
berinteraksi dengan Al-Qur’an, yang dilandasi sebuah keyakinan yang sangat
mengakar dalam lubuk sanubari mereka yang teramat dalam, bahwa hanya Al-Qur’an
lah satu-satunya pedoman hidup yang mampu mengantarkan manusia pada kebahagiaan
hakiki baik di dunia maupun di akhirat.
Kewajiban kita terhadap Al-Qur’an
1.
Membaca
Kewajiban kita adalah senantiasa membaca Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an
dengan penuh pemahaman akan menumbuhkan kegemaran kepada Al-Qur’an dan
kecintaan kepada Allah. Dengan membaca Al-Qur’an kita akan mendapatkan
ketenangan dan ketenteraman. Rasulullah SAW berabda:
Artinya: “hendaklah kamu senantiasa membaca Al-Qur’an, karena Al- Qur’an
itu cahaya petunjuk bagi kamu di bumi dan simpanan untukmu di langit.”
2.
Mempelajari Al-Qur’an
Seorang muslim diharuskan untuk terus-menerus mempelajari Al-Qur’an. Dalam
pengantar kitab tafsir Al-Kasyaf, imam zamakhsyari berpendapat, dahwa
mempeljari tafsir Al-Qur’an merupakan pardhu’ain.
3.
Mengajarkan dan mengamalkan
kandungan Al-Qur’an
Telah disampaikan diatas bahwa Al-Qur’an adalah pedoman hidup, berisikan
sejarah yang dapat kita jadikan kaca perbandingkan di masa-masa yang akan
datang. Oleh sebab itu lah kita dianjurkan untuk mengamal isi kandungan
Al-Qur’an dengan mengamalkan nya hidu kita akan memjadi terarah dan lembut
dalam bersikap serta memiliki akhlak yang mulia baik di mata Allah maupun
dimata manusia. Kemudian agar orang yang mengamalkannya tidak terputus kita
diharuskan mengajarkannya kepada genersi kita sehingga mereka menjadikan
Al-Qur’an sebagai sumber dari tindakan merekan dengan demikian kita telah
membentuk karakter yang baik kepada mereka karena orang yang sering membaca
Al-Qur’an akan berbeda perilakunya dengan orang yang membaca selain Al-Qur’an
sebab Al-Qur’an yang berisikan pengetahuan tang luas mencakup seluru aspek
kehidapan. Dengan mengajarkan Al-Qur’an akan menghalang perkataan seorang
perlemen di inggris yaitu bahwa islam tidak akan hancur dengan cara-cara
militer. Tapi islam akan hancur dengan menjauhkan umatnya dari Al-Qur’an.
Mereka tidak mengharapkan orang islam itu pindah agama, yang merek inginkan
bagainama cara berpikir, bersikap, berperilaku jauh dari Al-Qur’an.
B. Variabel y
Pembentukan Karakter
Secara umum, karakter diartikan sebagai “watak, tabiat, akhlak atau
kepribadian seseorang yang terbentuk
dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues)”. Akar kata
karakter bisa dilacak pada bahasa latin, kharassein dan kharax yang
berarti tools for making, to engrave, dan pointed
stake. Pada abad ke-14, kata ini populer digunakan dalam Bahasa
Perancis, ‘caractere’, kemudian masuk ke dalam Bahasa Inggris menjadi “character”
selanjutnya menjadi Bahasa Indonesia, “karakter”. Dalam bahasa Indonesia,
karakter dapat diartikan sebagai sifat-sifat, tabiat, atau watak kejiwaan.
Kamus Arab-Inggris “Al-Mawrid” karya Ba’albaki, mendefinisikan karakter sebagai
tabiat atau sifat. Secara lebih luas, al-Khuli memaknai karakter sebagai
kesatuan ciri-ciri pribadi seseorang yang melekat selamanya.
Berdasarkan
definisi tersebut, pendidikan karakter diartikan sebagai pendidikan yang
berorientasi pada penanaman watak, tabiat, akhlak atau kepribadian yang mulia.
Walaupun istilah karakter bukan hanya bermakna positif, tapi istilah pendidikan
karakter ditujukan untuk membangun pendidikan yang positif. Secara lebih luas
dan mendalam, pendidikan karakter diartikan sebagai:
“Proses
pembentukan jati diri manusia yang dilakukan dengan cara membangun kualitas
logika, akhlak, dan keimanan. Pembentukannya diarahkan pada proses pembebasan manusia
dari ketidakmampuan, ketidak benaran, ketidak jujuran, ketidak adilan dan dari
buruknya akhlak dan keimanan. Dengan proses tersebut, diharapkan terbentuk jati
diri manusia yang berwatak, berakhlak, dan bermartabat.”
Berdasarkan
penjelasan tersebut, pendidikan karakter berorientasi pada pengembangan fungsi
akal dan hati yang sehat yang akan membentuk akhlak peserta didik yang mulia,
yaitu akhlak kepada Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan alam sekitar.
Hal ini dipertegas oleh penjelasan lain tentang pendidikan karakter, yakni
pendidikan budi pekerti plus yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive),
perasaan (feeling), dan tindakan (action). Pendidikan karakter
yang diduga dicetuskan pertama kali oleh pedagog Jerman FW Foerster (1869-1966)
menekankan dimensi etis spiritual dalam proses pembentukan pribadi peserta
didik.Dengan demikian, akan lebih baik kalau nilai-nilai agama dilibatkan dalam
pengembangannya.
Dalam
prakteknya, pendidikan karakter harus memenuhi tiga proses berikut, yaitu
proses pemberdayaan (empowering) potensi peserta didik, proses humanisasi
(humanizing), dan proses pembudayaan (civilizing). Sebagai proses
pemberdayaan, pendidikan karakter harus mendorong pemberdayaan dan pengembangan
peserta didik sehingga mereka menyadari dirinya sebagai makhluk yang mempunyai
banyak potensi. Sebagai proses humanisasi, pembentukan karakter harus mampu
menyadarkan manusia sebagai manusia. Dengan demikian proses pendidikan tidak
menjadikan peserta didik sebagai objek atau robot bagi orang dewasa, tapi
sebaliknya mendorong mereka menjadi subjek yang bebas, mandiri, dan kritis.
“pembentukan karakter haruslah mampu menyadarkan peserta didik tentang
eksistensi dirinya dan tentang realitas sosialnya, dan untuk selanjutnya,
dengan kesadarannya, peserta didik bersama-sama pendidik melakukan perubahan ke
arah kehidupan yang lebih baik.” Sebagai proses pembudayaan, pembentukan
karakter “membantu membangun sistem pengetahuan, nilai-nilai, sistem keyakinan,
norma-norma, tradisi atau kebiasaan, peraturan yang koheren dan berguna bagi
individu, sekolah, keluarga, masyarakat, dan bagi bangsa dan negara sebagai
satu kesatuan sehingga terbentuk kelompok masyarakat yang beradab.”
Agar
pembentukan karakter bisa berfungsi semestinya, tiga basis desain sangat
diperlukan:
(1)
desain pembentukan karakter berbasis kelas. “Desain ini berbasis pada relasi
guru sebagai pendidik dan siswa sebagai pembelajar di dalam kelas”, (2) desain
pembentukan karakter berbasis kultur sekolah. “Desain ini mencoba membangun
kultur sekolah yang mampu membentuk karakter anak didik dengan bantuan pranata
sosial sekolah agar nilai tertentu terbentuk dan terbatinkan dalam diri siswa”,
dan
(3)
desain pembentukan karakter berbasis komunitas. “Dalam mendidik, komunitas
sekolah tidak berjuang sendirian. Masyarakat di luar lembaga pendidikan,
seperti keluarga, masyarakat umum, dan negara, juga memiliki tanggung jawab moral
untuk mengintegrasikan pembentukan karakter dalam konteks kehidupan mereka”.
Karakter
para anak didik di Indonesia sudah banyak melenceng dari norma-norma agama.
Sebab para pendidik di Indonesia hanya bisa menyiapkan peserta didik untuk
mencapai kejenjang yang lebih tinggi sehingga akhlak seorang anak tidak lagi
diperhatikan. Sedangkan kita mengetahui betapa pentingnya karakter bangsa
sebagai kuallitas SDM karena kualitas karakter bangsa menentukan kemajuan suatu
bangsa. Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan di bina sejak usia dini.
Usia merupakan kerisis bagi pembentukan karakter seseorang. Menurut frued
kegagalan penanaman keperibadian yang baik di
usia dini ini akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasa kelak.
Kesukesan orang tua dalam membimbing anaknya
dalam mengatasi konflik keperibadian di usia dini sangat menentukan
kesuksesan anak dalam kehidupan social di masa dewasanya kelak.(Erikson, 1968).
C.
Hubungan xy
Pendidikan sejak dulunya tidak pernah lepas dari
pentingnya tradisi membaca. Baik membaca dalam arti luas ataupun dalam arti
yang sempit. Membaca dalam arti luas berarti peka, jeli dan kritis terhadap
setiap realitas dan segala sesuatu yang mengundang otak untuk melakukan
analisis. Sedangkan dalam arti sempit, membaca adalah bergaul secara inten
dengan teks. Bergaul inten berarti bukan sekedar membaca, namun lebih kepada
kemampuan untuk menangkap setiap pesan yang tersurat ataupun yang tersirat pada
sebuah teks. Sehingga jauh setelah itu, pembaca akan memiliki pemahaman yang
mendalam terhadap sebuah teks. Dan yang paling penting, pemahaman dari hasil
pikiran ini mampu menjadi sesuatu yang hidup dalam diri pembaca. Artinya, teks
yang dibaca dapat memberikan pengaruh yang signifikan bagi pembacanya.
Lalu apa korelasi antara pendidikan, membaca dan
karakter? Secara singkat, penulis berasumsi bahwa pendidikan merupakan salah
satu wahana pembentukan karakter. Kemudian membaca (dalam arti sempit)
merupakan sesuatu yang sulit dipisahkan dari proses pendidikan. Jadi, salah
satu metode pembentukan karakter seseorang dalam proses pendidikan adalah dengan
menjalin hubungan secara inten dengan teks atau bacaan. Proses seperti ini akan
memberikan kebebasan kepada anak didik untuk memilih karakter mana yang disukainya. Anda
selaku pendidik hanya perlu mengawasi perkembangan mereka setiap saat, tentu
saja dengan bimbingan yang tidak kalah inten dengan semangat mereka membaca.
Karena arahan para pendidik yang mencerahkan akan senantiasa mereka nantikan
saat kejenuhan mulai hinggap di sela-sela semangat mereka untuk menemukan jati
diri.
Namun masalah kembali timbul ketika ada pertanyaan
tentang sejauh mana antusiasme peserta didik untuk membaca. Masalah ini sama
besarnya dengan masalah kita selaku individu yang enggan membaca. Sementara
kita tahu bahwa membaca selalu terasa lebih berkualitas dan nikmat ketimbang
menonton film. Pengaruhnya terasa lebih hidup dalam jiwa kita ketimbang saat
menonton film atau mendengarkan ceramah para guru yang terhormat di depan kelas.
Misalnya saat membaca Qur’an, kita akan cepat hafal dan ingatan akan menuju
pada huruf yang kita baca serta akan tertanam lebih dalam di benak kita dalam
waktu yang lama. Ingatan seperti inilah yang penulis sebut sebagai teks yang
senantiasa hidup dalam diri pembaca. Jadi, alasan ini harus diketahui oleh para
pemalas baca, paling tidak ini akan jadi motivasi bagi mereka atau kita.
Lemahnya minat baca kita secara umum, baik anak didik,
siswa, mahasiswa, guru dan dosen berakibat pada banyak hal dalam kehidupan kita
sehari-hari. Membaca merupakan kebutuhan pokok. Apabila kebutuhan membaca tidak
tercukupi, maka akan terjadi kegersangan intelektual yang luar biasa di dunia
pendidikan dalam skala luas. Kegersangan ini akan berakibat buruk bagi kualitas
pendidikan di Indonesia. Bagi para pendidik yang berada di bawah panji Lembaga
Pendidikan Islam, ada satu hal lagi yang harus mereka perhatikan, yaitu minat
baca terhadap kitab suci (Al Qur’an). Karena jarang sekali kita jumpai (di
Indonesia) seorang muslim yang membaca Al Qur’an di tempat-tempat umum seperti
bandara, stasiun, taman kota dan lain-lain. Tidak seperti saudara setanah air
kita yang Kristen, mereka terlihat membawa Injil kebanggaan mereka kemana-mana
dan membacanya dimana saja mereka punya waktu luang.
Mungkin saja Al Qur’an terlalu mulia untuk dibawa
kemana-mana, toh umat Muhammad SAW ini punya tata cara tersendiri dalam
memperlakukan kitab sucinya yang agung. Jadi cukuplah mereka membacanya di
tempat-tempat ibadah mereka yang suci, atau di rumah mereka masing-masing. Dan
budaya ini mungkin tidak bisa disamakan dengan budaya umat Kristen yang sangat
bangga dengan Kitab Sucinya dimanapun mereka berada. Tetapi, jika umat Islam
benar-benar sudah kehilangan budaya membaca dan memahami Al Qur’an, maka bukan
hanya kegersangan intelektual yang akan mereka alami, tetapi kegersangan
spiritual yang akibatnya akan lebih berbahaya dari hanya kegersangan
intelektual.
Pembentukan
karakter melalui teks Al-Qur’an akan lebih baik dan memiliki pengaruh yang signifikan.
Budaya membaca Al-Qur’an akan membantu para orang tua dan guru dalam
membentuk karakter yang baik terhadap seorang anak. Tetapi paling tidak, dua bahaya berupa kegersangan intelektual dan spiritual
bisa kita hindari sedikit dan makin selesai.
Mengapa Al-Qur’an dibukukan atau dikitabkan? Bukankan
ini berarti bahwa Al-Qur’an itu penting bagi orang-orang yang berfikir?
Tidak mau membaca Kitab Suci berarti tidak peduli pada
Firman Tuhan. Sedangkan Al-Qur’an adalah pedoman kehidupan oleh sebab, itu
siapapun yang membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar akan memiliki ilmu yang
luas baik tentang ketuhanan dan sejarah para nabi maupun ilmu yang berhubungan
dengan ilmu-ilmu sains, bialogi, politik, dan karakter. Dengan demikian membaca
Al-Qur’an akan memberikan dampak yang positif kepada peserta didik atau santri
sehingga ia akan memberi pengaruh yang sangat signifikan dalam pembentukan karakter santri.
Generasi kita akan mengalami kegersangan intelektual
dan spiritual sepanjang masa jika tidak di didik dengan membaca Al-Qur’an.
BAB III
METODE PENELITIAN
A.
Metode Pengumpulan data
a. Metode
Observasi
Observasi adalah salah satu cara penelitian
yang berguna untuk mengumpulkan data dengan menggunakan kekuatan pengamatan.
b. Metode Angket
Metode angket adalah daftar pertanyaan
tertulis yang digunakan untuk pengumpulan data dari responden, adapun juga
metode angket yang penulis gunakan dalam
penelitian ini ialah angket terbuka, dimana respondennya diberi kebebasan untuk
memberi jawaban sesuai dengan fakta yang
dilakukan mereka.
c. Metode Populasi
Metode populasi adalah subyek penelitian yang
mencangkup semua elemen dan ansur-absurnya. Peneliti menggunakan penelitian
populasi yaitu berarti penulis mengambil seluruh santri pondok pesantern
Al-Azhaar.
d. Metode Sampel
Metode sampel adalah sebagian obyek
penelitian memiliki kemampuan mewakili seluruh data (populasi). Penulis
menggunakan penelitian sampel yaitu penulis mengambil sebagian santriwan dan
santriwati yang ada di pondok pesantren Al-Azhaar ini. Dengan semua metode
inilah yang penulis gunakan agar mendapatkan data-data yang jelas dan bukan
hanya sekedar mengarang saja, akan tetapi mengambil dan mendapatkan data dengan
bukti dan realita.
B.
Tehnik Analisa Data
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan
analis statistic yang diperoleh dari menyebar angket kepada 16 orang santriwan
yang ada di pondok pesantren Al-Azhaar ini. Maksud dari penganalisaan data ini
ialah mempore]oleh hasil yang jelas dan untuk membuktikan serta menguji
kebenaran hipotesis yang diajukan yaitu: "Pengaruh membaca Al-Qur’an terhadap
pembentukan karakter Santri"
1.
Variabel-variabel yang Diteliti
X :
membaca Al-Qur’an
Y :
pembentukan karakter
TABEL I
JUMLAH
SANTRIWAN
PONDOK
PEASANTREN AL-AZHAAR LUBUKLINGGAU SUMATERA SELATAN
No
|
Jumlah
|
Keterangan
|
1
|
16
|
Santriwan
|
DAFTAR PUSTAKA
Syaikh Abul Abbas Zainuddin Ahmad bin Ahmad bin Abdul Latif Asy Syiraji Az- zubaidi
Judul buku:
at-Tajridush sharih LI Ahadisil Jami’ish shahih.
Drs. H. Muhammad
Zuhri judul buku: terjemah hadist shahih bukhari terbitan jumadil akhir 1428 H
Penerbit : PT. INTIMEDIA CIPTANUSANTARA
Halaman : 22-34
Buku pelajaran Al-Qur’an Hadits untuk kls VIII
penyusun: Drs.H.D.Moh. Yasir, M. Ag

Tidak ada komentar:
Posting Komentar