Oleh : Dersa Subarta
Bagaimana kujelaskan perasaan ini yang selalu menghantui,terkadang
perasaan itu membisikkan kabar gembira dan berbayangkan keindahan ,tak jarang
ku dengar kata-kata manis yang kau lontarkan sebagai penghangat hasrat cinta
yang aku alami tapi, kenapa semuanya jadi beruba?pertanyaan ini tentu membuatku
terluka dalam ruang dan waktu yang berbeda. Hari-hari yang penuh kerinduan
tiada bertepi, membuat hati terasa gunda dan menyepi. Rasanya ingin sekali
kubuang rasa itu karna ia telah menjadi benalu dalam hidup ini. ”tidak, aku
harus pergi dari rasa yang berwajah delima dan berhati dilema”.ujar aku kesal.
“jika engkau biarkan
perasaan itu menyelam terlalu dalam maka akan membuatmu tak berarti dan diabaikan” sahut aku kembali dengan
kekesalannya.
“iya betul kamu tak
akan berarti dimatanya” sahut galau.
“mulai sekarang
pantaskan diri anda untuk dipilih oleh wanita-wanita terhebat”ujar kecewa.
“baiklah akan aku
buktikan kepantasanku untuk dipilih oleh wanita-wanita hebat karna dulu aku
dipilih kok sekarang aku yang memilih?”.jawab aku mencoba tegar.
Rasa itu terus disibukkan olah gejolak pada
kegaluahan,kerisauan,dan kegalauan. Senja pun pergi menghinglang dan menemui
kelam malam yang tak bersahabat pada rasa, hasrat, dan kenginan.
Hari-hari sudah tak lagi bersahabat pada hasrat yang kian cemburu
pada dunia yang tak sependapat padanya hingga malam memisahkan hasrat dan
rindu itu.
