WAKTU YANG HILANG
Pagi yang
cerah menampakkan keindahan mentari mulai menyinari bumi dengan sinar yang
hangat dan menyehatkan. Tersirat dihati
Barra untuk menunaikan sholat dhuha tapi, dia ragu dan berkata”adakah
waktu untukku dalam pengabdianku padamu tuhan?” entah bagaimana jika waktu yang
ia miliki tak mengizinkan. Kemudian dia memohon agar ia bisa sholat dhuha pagi
itu” tuhan izinkan daku melaksanakan sholat pagi ini” tuturnya dalam hati.
Selang beberapa menit Barra mulai semakin sibuk dengan pekerjaannya pagi pun
hilang seketika, dia baru sadar dan panik mencari kemana perginya pagi.
Tiba-tiba siangpun datang menggantikan kabutnya pagi dan Barra sangat heran
dengan kedatangannya”apa yang telah aku lakukan?” gumam Barra dalam hati
kecilnya. Lalu sebuah suara menjawab”engkau telah disibukkan oleh Duniamu”.
Barra semakin kebinggungan dengan dirinya yang melalaikan sholat dhuha pagi
itu. Hari pergi dengan perlahan sedangkan Barra tak sadarkan diri terhipnotis
oleh waktu yang sia-sia.
Kemudian Barra
terlelap tidur dikamarnya yang ditemani oleh buku-buku dan sebuah pena. Barra bermimpi
bahwa dirinya berlari dengan kencang memanjat sebuah gunung dan sampai
dipuncaknya Barra merasa bahagia disana tiba-tiba terdengar suara
memanggil-manggil namanya” Barra….Barra…” lalu dia terbangun ternyata memang
ada orang memanggil namanya minta dihidupkan air.
Lalu ia pun
bergegas menghidupkan air sambil lewat ke kamar mandi terliahat olehnya jarum
jam menunjukakan pukul 01:30 ia mulai menulis tentang waktu yang hilang bersama
data ibadah dan amal sholehnya.”Astaghfirullahul’adzin aku berbuai dengan
dunia, waktu dhuha sudah tiada. Kemana perginya sang dhuha?”tutur Barra.
Hari tersenyum mendengar Barra menuturkan
kata-kata tapi, setelah itu ia terdiam membisu dengan raut wajah yang cemberut
dan memerah, suasana panaspun membakar kulit-kulit tengah beraktivitas di luar
ruangan dan berkata” seharusnya engkau lebih mendahulukan dhuhamu dari pada
menyibukkan diri dengan duniamu”. Barra pun menyesal dengan apa yang telah ia perbuat karna waktu
dhuhanya pergi begitu saja.
Tapi, anehnya
Barra tidak putus asa dan selalu menebarkan kebaikan dan bekerja dengan
semangat walau diawal ada kekecewaan terhadap sang jiwa yang lalai untuk
melakukan sholat dhuha. Di tengah kesibukan itu tiba-tiba datang segerombolan
teman selokalnya mengajak Barra pergi menjenguk salah seorang teman sekuliahnya
yang sedang terbaring dirumahnya.
Barra sangat
ingin pergi menjenguknya tapi,dia tidak memiliki waktu kosong”aku sangat ingin
menjenguknya tapi, aku lagi bekerja sebagai kariwan sulit bahkan tidak bisa
izin karna waktu itu waktu sedang sibuk-sibuknya. Sampaikan salamku padanya dan
berikanlah sedikit rezekiku padanya ”ujar Barra.
Lalu mereka
pergi bersama-sama menjenguk kawan dan Barra kembali bekerja sebagaimana
mestinya azanpun terdengar dikumandangkan dari masjid baitul a’la mengisyaratkan
waktu sholat sudah datang Barra pun bergegas mengambil air wudhu’nya dan tanpa
menunda-nunda waktu lagi, ia melaksanakan sholat asar.
Setelah sholat
Barra kembali bekerja sampai matahari terbenam menggantikan panasnya siang hari
dengan malam yang kelam dan gelap pekat orang-orang pulang ketempat tinggal
mereka masing-masing dan Barra sendiri menutup pintu-pintu yang terbuka tanpa
rasa takut ia tinggal sendirian di kampusnya. Dan malampun berkata “good night
Barra” Barra tak dapat berkata apa-apa dan terdiam sambil merenungi
kesalahannya.
Suatu ketika Barra merasakan kurang enak badan, tubuhnya
lemah dan tak berdaya, ia sadar bahwa itu pertanda adalah peringatan dari Allah
karena ia sudah tak lagi tekun melakukan ibadah sunnah. Ia merasakan sebuah
nada pergejolakan antara perasaan dan hati nuraninya. Lalu ia berkata” Ya Robb,
bimbinglah aku kejalanmu dan ajarilah aku dari kebodohanku dan ingatilah aku
dari kelupaanku” setelah itu ia bergegas mandi dan bersiap-siap untuk pergi
kemasjid untuk menunaikan sholat maghrib berjamaah.
Barra tinggal didekat masjid yang mega, Masjid Baitul A’la
namanya setiap hari ia mendengarkan kumandang azan dari masjid itu tapi, jarang
sekali barra sholat dibarisan depan. sore itu Barra sangat semangat sekali
pergi kemasjid ia datang duluan ia pun mendapatkan barisan depan. Setelah
sholat ia membaca Al-Ma’tsurat.
Kemudian ia kembali kekampus tempat tinggalnya dan
melakanakan tugas sebagaimana mestinya.
Karya : Dersa subarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar