Kamis, 16 Januari 2014

Cerpen


WAKTU YANG HILANG

Pagi yang cerah menampakkan keindahan mentari mulai menyinari bumi dengan sinar yang hangat dan menyehatkan. Tersirat dihati  Barra untuk menunaikan sholat dhuha tapi, dia ragu dan berkata”adakah waktu untukku dalam pengabdianku padamu tuhan?” entah bagaimana jika waktu yang ia miliki tak mengizinkan. Kemudian dia memohon agar ia bisa sholat dhuha pagi itu” tuhan izinkan daku melaksanakan sholat pagi ini” tuturnya dalam hati. Selang beberapa menit Barra mulai semakin sibuk dengan pekerjaannya pagi pun hilang seketika, dia baru sadar dan panik mencari kemana perginya pagi. Tiba-tiba siangpun datang menggantikan kabutnya pagi dan Barra sangat heran dengan kedatangannya”apa yang telah aku lakukan?” gumam Barra dalam hati kecilnya. Lalu sebuah suara menjawab”engkau telah disibukkan oleh Duniamu”. Barra semakin kebinggungan dengan dirinya yang melalaikan sholat dhuha pagi itu. Hari pergi dengan perlahan sedangkan Barra tak sadarkan diri terhipnotis oleh waktu yang sia-sia.
Kemudian Barra terlelap tidur dikamarnya yang ditemani oleh buku-buku dan sebuah pena. Barra bermimpi bahwa dirinya berlari dengan kencang memanjat sebuah gunung dan sampai dipuncaknya Barra merasa bahagia disana tiba-tiba terdengar suara memanggil-manggil namanya” Barra….Barra…” lalu dia terbangun ternyata memang ada orang memanggil namanya minta dihidupkan air.
Lalu ia pun bergegas menghidupkan air sambil lewat ke kamar mandi terliahat olehnya jarum jam menunjukakan pukul 01:30 ia mulai menulis tentang waktu yang hilang bersama data ibadah dan amal sholehnya.”Astaghfirullahul’adzin aku berbuai dengan dunia, waktu dhuha sudah tiada. Kemana perginya sang dhuha?”tutur Barra.           
 Hari tersenyum mendengar Barra menuturkan kata-kata tapi, setelah itu ia terdiam membisu dengan raut wajah yang cemberut dan memerah, suasana panaspun membakar kulit-kulit tengah beraktivitas di luar ruangan dan berkata” seharusnya engkau lebih mendahulukan dhuhamu dari pada menyibukkan diri dengan duniamu”. Barra pun menyesal  dengan apa yang telah ia perbuat karna waktu dhuhanya pergi begitu saja.
Tapi, anehnya Barra tidak putus asa dan selalu menebarkan kebaikan dan bekerja dengan semangat walau diawal ada kekecewaan terhadap sang jiwa yang lalai untuk melakukan sholat dhuha. Di tengah kesibukan itu tiba-tiba datang segerombolan teman selokalnya mengajak Barra pergi menjenguk salah seorang teman sekuliahnya yang sedang terbaring dirumahnya.
Barra sangat ingin pergi menjenguknya tapi,dia tidak memiliki waktu kosong”aku sangat ingin menjenguknya tapi, aku lagi bekerja sebagai kariwan sulit bahkan tidak bisa izin karna waktu itu waktu sedang sibuk-sibuknya. Sampaikan salamku padanya dan berikanlah sedikit rezekiku padanya ”ujar Barra.
Lalu mereka pergi bersama-sama menjenguk kawan dan Barra kembali bekerja sebagaimana mestinya azanpun terdengar dikumandangkan dari masjid baitul a’la mengisyaratkan waktu sholat sudah datang Barra pun bergegas mengambil air wudhu’nya dan tanpa menunda-nunda waktu lagi, ia melaksanakan sholat asar.
Setelah sholat Barra kembali bekerja sampai matahari terbenam menggantikan panasnya siang hari dengan malam yang kelam dan gelap pekat orang-orang pulang ketempat tinggal mereka masing-masing dan Barra sendiri menutup pintu-pintu yang terbuka tanpa rasa takut ia tinggal sendirian di kampusnya. Dan malampun berkata “good night Barra” Barra tak dapat berkata apa-apa dan terdiam sambil merenungi kesalahannya.
Suatu ketika Barra merasakan kurang enak badan, tubuhnya lemah dan tak berdaya, ia sadar bahwa itu pertanda adalah peringatan dari Allah karena ia sudah tak lagi tekun melakukan ibadah sunnah. Ia merasakan sebuah nada pergejolakan antara perasaan dan hati nuraninya. Lalu ia berkata” Ya Robb, bimbinglah aku kejalanmu dan ajarilah aku dari kebodohanku dan ingatilah aku dari kelupaanku” setelah itu ia bergegas mandi dan bersiap-siap untuk pergi kemasjid untuk menunaikan sholat maghrib berjamaah.
Barra tinggal didekat masjid yang mega, Masjid Baitul A’la namanya setiap hari ia mendengarkan kumandang azan dari masjid itu tapi, jarang sekali barra sholat dibarisan depan. sore itu Barra sangat semangat sekali pergi kemasjid ia datang duluan ia pun mendapatkan barisan depan. Setelah sholat ia membaca Al-Ma’tsurat.
Kemudian ia kembali kekampus tempat tinggalnya dan melakanakan tugas sebagaimana mestinya.

                                                                                                                                                Karya : Dersa subarta

Tidak ada komentar: