Kasih Sayang
“Dan Apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes air (mani), Maka tiba-tiba ia menjadi pembangkang yang nyata!. (Q.S. Yaasiin :77).
Manusia
diciptakan dari setetes air mani, air yang tak memiliki nilai, yang jika kita
mau membawanya ke pasar untuk dihargai, tak akan ada seorang pun yang ingin
membelinya. Namun, dengan kasih sayang dan rahmat Allah air mani yang tak
memiliki nilai di hadapan manusia dijadikan suatu bentuk yang paling indah (ahsani
taqwiim), dan menjaga air mani tersebut di tempat yang bernama rahim
seorang ibu (qororin makiin), yang akal manusia tak pernah dapat
membayangkan bagaimana penjagaan Allah di tempat itu, bagaimana pula Allah
memberikan rezeki kepada sang bayi yang dia sendiri tak bisa berbuat apa-apa
untuk mendapatkan rezekinya. Setelah lahir sang bayi masih belum bisa berbuat
apa-apa untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Maka Allah
pun mengilhamkan kepada sang bayi bagaimana cara agar mendapatkan keinginannya
dengan cara menangis, dengan tangisan yang dikeluarkannya orang-orang di
sekeliling sang bayi pun menjadi tahu bahwa ada yang diinginkan oleh sang bayi.
Seiring
dengan berjalannya waktu yang juga disertai dengan nikmat dari Allah, air mani
yang tak memiliki nilai tersebut menjadi seorang yang dewasa, dengan ahsani
taqwim dan akal yang ada dalam dirinya telah mampu berusaha untuk
mendapatkan segala kebutuhan dan keinginannya. Segala cara dilakukan, yang
terkadang banyak dari cara-cara tersebut yang sadar atau tidak dia melanggar
aturan Allah, Tuhan Yang menjaga dan memenuhi kebutuhannya di saat masih dalam
keadaan bayi. Kini dengan segala karunia yang Allah berikan kepadanya dia
justru menjadi pembangkang yang nyata (khosiimum mubiin). Sering sekali
dia menuruti hawa nafsunya hanya untuk kebahagiaan yang semu, atau hanya untuk
terlihat hebat dan mendapatkan kemuliaan di hadapan manusia.
Hawa
nafsu yang membimbingnya ke jalan yang penuh kehinaan dan hati yang penuh
dengan kegelapan, menjadikan pembakang yang nyata semakin jauh dari Tuhan yang
sejak dahulu sampai saat dia menjadi pembakang yang nyata masih terus
memberikan berbagai karunia kepadanya. Jika si pembangkang yang nyata itu mau
merenung, bagaimana bisa dia menjadi seorang pembangkang sementara karunia
terus dia terima?, bagaimana mungkin si pembangkang yang nyata itu merasa aman
dari Tuhan yang tak pernah luput sesuatu apa pun dari pengawasan-Nya?, dan
apakah dia juga lupa bahwa dahulu dia tak berdaya dan kelak akan kembali tak
berdaya?.
Namun
lagi-lagi Allah dengan rahmat dan karunia-Nya tak menghisab pembakang yang
nyata itu dengan keadilan-Nya semata, tapi Allah juga menghisab disertai dengan
Rahmat-Nya Yang Meliputi Segala Sesuatu, sehingga seandainya Allah
menghukumnya, sungguh hukuman tersebut ringan dibandingkan yang seharusnya dia
terima. Dan Allah senantiasa menuggu si pembangkang yang nyata itu untuk
bertobat kembali kepada-Nya. Wahai khosimum mubiin sadar dan kembalilah
kepada jalan Dzat Yang Maha Kasih Sayang….Wahai setetes mani yang tak bernilai
sadar dan kembalilah kepada jalan Dzat Yang Telah menjadikanmu dengan bentuk
yang paling indah…Wahai makhluk yang lemah bertobatlah yang jika engkau
bergembira atas tobatmu, sungguh Allah lebih gembira atas tobatmu…
“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji
atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun
terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari
pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka
mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga
yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan
Itulah Sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (Q.S. Ali Imran 135-26).
“Sesungguhnya Allah lebih gembira menerima taubat
hamba-Nya ketika dia bertaubat kepada-Nya, daripada kegembiraan seseorang yang
mengendarai binatang tunggangannya, kemudian binatang tunggangan itu hilang di
padang yang luas, sedangkan di atas binatang itu bekalan makanan dan minumannya
hingga dia rasa berputus asa daripada menemuinya kembali. Lalu dia berteduh di
bawah sepohon kayu dengan perasaan putus asa daripada mendapatkannya kembali.
Dalam keadaan itu, tiba-tiba muncul di sisinya binatang tunggangannya yang
hilang tadi dan dengan segera dia memegang talinya seraya berkata dengan penuh
gembira, “Ya Allah, Engkaulah hambaku dan aku tuhanmu,” dia tersalah sebut
kerana terlalu gembira.” (HR.Muslim)