Kamis, 30 Januari 2014

Kasih Sayang



Kasih Sayang

“Dan Apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes air (mani), Maka tiba-tiba ia menjadi pembangkang yang nyata!. (Q.S. Yaasiin :77).
Manusia diciptakan dari setetes air mani, air yang tak memiliki nilai, yang jika kita mau membawanya ke pasar untuk dihargai, tak akan ada seorang pun yang ingin membelinya. Namun, dengan kasih sayang dan rahmat Allah air mani yang tak memiliki nilai di hadapan manusia dijadikan suatu bentuk yang paling indah (ahsani taqwiim), dan menjaga air mani tersebut di tempat yang bernama rahim seorang ibu (qororin makiin), yang akal manusia tak pernah dapat membayangkan bagaimana penjagaan Allah di tempat itu, bagaimana pula Allah memberikan rezeki kepada sang bayi yang dia sendiri tak bisa berbuat apa-apa untuk mendapatkan rezekinya. Setelah lahir sang bayi masih belum bisa berbuat apa-apa untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Maka Allah pun mengilhamkan kepada sang bayi bagaimana cara agar mendapatkan keinginannya dengan cara menangis, dengan tangisan yang dikeluarkannya orang-orang di sekeliling sang bayi pun menjadi tahu bahwa ada yang diinginkan oleh sang bayi.
Seiring dengan berjalannya waktu yang juga disertai dengan nikmat dari Allah, air mani yang tak memiliki nilai tersebut menjadi seorang yang dewasa, dengan ahsani taqwim dan akal yang ada dalam dirinya telah mampu berusaha untuk mendapatkan segala kebutuhan dan keinginannya. Segala cara dilakukan, yang terkadang banyak dari cara-cara tersebut yang sadar atau tidak dia melanggar aturan Allah, Tuhan Yang menjaga dan memenuhi kebutuhannya di saat masih dalam keadaan bayi. Kini dengan segala karunia yang Allah berikan kepadanya dia justru menjadi pembangkang yang nyata (khosiimum mubiin). Sering sekali dia menuruti hawa nafsunya hanya untuk kebahagiaan yang semu, atau hanya untuk terlihat hebat dan mendapatkan kemuliaan di hadapan manusia.
Hawa nafsu yang membimbingnya ke jalan yang penuh kehinaan dan hati yang penuh dengan kegelapan, menjadikan pembakang yang nyata semakin jauh dari Tuhan yang sejak dahulu sampai saat dia menjadi pembakang yang nyata masih terus memberikan berbagai karunia kepadanya. Jika si pembangkang yang nyata itu mau merenung, bagaimana bisa dia menjadi seorang pembangkang sementara karunia terus dia terima?, bagaimana mungkin si pembangkang yang nyata itu merasa aman dari Tuhan yang tak pernah luput sesuatu apa pun dari pengawasan-Nya?, dan apakah dia juga lupa bahwa dahulu dia tak berdaya dan kelak akan kembali tak berdaya?.
Namun lagi-lagi Allah dengan rahmat dan karunia-Nya tak menghisab pembakang yang nyata itu dengan keadilan-Nya semata, tapi Allah juga menghisab disertai dengan Rahmat-Nya Yang Meliputi Segala Sesuatu, sehingga seandainya Allah menghukumnya, sungguh hukuman tersebut ringan dibandingkan yang seharusnya dia terima. Dan Allah senantiasa menuggu si pembangkang yang nyata itu untuk bertobat kembali kepada-Nya. Wahai khosimum mubiin sadar dan kembalilah kepada jalan Dzat Yang Maha Kasih Sayang….Wahai setetes mani yang tak bernilai sadar dan kembalilah kepada jalan Dzat Yang Telah menjadikanmu dengan bentuk yang paling indah…Wahai makhluk yang lemah bertobatlah yang jika engkau bergembira atas tobatmu, sungguh Allah lebih gembira atas tobatmu…
“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah Sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (Q.S. Ali Imran 135-26).
Sesungguhnya Allah lebih gembira menerima taubat hamba-Nya ketika dia bertaubat kepada-Nya, daripada kegembiraan seseorang yang mengendarai binatang tunggangannya, kemudian binatang tunggangan itu hilang di padang yang luas, sedangkan di atas binatang itu bekalan makanan dan minumannya hingga dia rasa berputus asa daripada menemuinya kembali. Lalu dia berteduh di bawah sepohon kayu dengan perasaan putus asa daripada mendapatkannya kembali. Dalam keadaan itu, tiba-tiba muncul di sisinya binatang tunggangannya yang hilang tadi dan dengan segera dia memegang talinya seraya berkata dengan penuh gembira, “Ya Allah, Engkaulah hambaku dan aku tuhanmu,” dia tersalah sebut kerana terlalu gembira.” (HR.Muslim)