Dalam Kacamata Alumni (Reuni Akbar)
Oleh : Dersa Subarta
Sudah bertahun-tahun lamanya
perpisahan antara guru-guru dan para murid hal ini mungkin saja menimbulkan
rasa rindu atau biasa yang kita sebut kangen. Setiap teman-teman akan
merindukan suasana yang sama seperti yang mereka lalui pada masa sekolah tapi
perlu kita ketahui masa sekarang tidak sama dengan masa lalu sebab zaman itu
terus berkembang dengan berbagai hal-hal atau penemuan yang baru. Coba kita
lihat acara yang termuat pada reuni biasanya kumpul-kumpul dan temu kangen.
Kita sering kali bisa
mengucapkan kata rindu tapi kita tidak bisa memaknai kerinduan itu sendiri.
Sering kali kita berpapasan dengan teman-teman yang satu sekolahan ataupun guru-guru
pada hari-hari biasa tapi tidak kelihatan bahwa kita memiliki suatu ikatan
yaitu satu Almamater.
Bukankah hal ini sangat
memilukan dan memalukan sebagai saudara terutama sesama muslim apalagi satu
Almamater. Kenapa dikatakan sangat memiluhkan Karena banyak dari teman-teman
yang merasa diabaikan ketika mereka berkunjung pada sekolahannya, sedangkan
mereka adalah buah karya sekolah tersebut.
Dan kenapa dikatakan
memalukan? Karena yang menjadi harapan dan dikenal sudah tidak lagi seperti
yang dibayangkan, persatuan dan kesatuan antara Alumni sudah hilang. Suatu
lembaga atau seorang pimpinan biasanya mengingat-ingat sosok seorang murid yang
baik serta membangga-banggakannya dan tidak peduli pada sosok murid yang tidak
disenangi atau sering kali berbuat ulah. Hal ini dapat membuat seseorang hilang
rasa memiliki terhadap Almamaternya dan ia lebih senang pada pola hidupnya
sendiri. Padahal salah satu penunjang popularitas kemajuan suatu lembaga
terletak pada kebanggaan Alumni terhadap Almamaternya.
Kembali pada reuni yang akan di selenggarakan
di pondok pesantren Al-Azhaar pada hari sabtu 9 februari 2014 merupakan reuni
pertama yang mungkin akan meninggalkan kesan yang baik atau mungkin juga kesan
yang buruk. Mungkin Alumni akan bangga
dengan gedung yang sudah begitu baik dan fasilitas yang begitu canggi,hal itu
tentu jauh berbeda dengan apa yang mereka lewati. Perubahan itu tentu saja akan
terjadi pada suatu lembaga. Alumni berharap perubahan itu terjadi karena
kemajuan dan perkembangan yang mampu membuat para santri lebih Aktif, kreatif, dan
Inovatif. Dan para Alumni sangat mendukung jika ada kemajuan yang positif pada
perkembangan pesantren tempat mereka menuntut ilmu dan tentu saja akan bertolak
belakang jika kemajuan dan perubahan itu membuat para santri atau penerus
Alumni kebobrokan nilai-nilai yang terkandung pada Akhlak dan keilmuan mereka.
Pondok pesantren berbasis virtual ini tentu saja memiki perubahan yang sangat
segnifikan dan memiliki berbagai kemajuan jika hal ini benar-benar digunakan
sesuai dengan fungsinya.
Penulis melihat perkembangan
santriwan dan santriwati pada era virtual ini tentu dengan mengamatan yang
berulang-ulang untuk memastikan manfaat dan modhoratnya. Manfaat yang terlihat
pada saat ini adalah kemajuan pengetahuan santri pad dunia maya khusus pada
akun social seperti facebook dan kemunduran nya adalah hilangnya budaya mandiri
dalam mencari ilmu.
kebanyakan para santri
yang keluyuran di dunia maya hal ini membuat para alumni lebih kenal dengan generasi
penerusnya tapi jika penulis amati banyak sekali waktu yang terbuang dan tidak
efesien jika kita ingin membentuk karakter yang baik pada santri sebab pada
dunia maya penulis menemukan beberapa orang santri yang menggunakan akun bukan
pada fungsi yang diinginkan lembaga. Apa ini yang dimaksud dengan pesantren
berbasis virtual? Hal ini kelihatan kurang bermanfaat jika media social di
gunakan untuk santri mencurahkan hasratnya pada seseorang yang sering kita
sebut cinta oleh sebab itu jika hal ini kita biarkan tanpa solusi yang tepat
dari teman-teman dan para guru maka akan menjadi bomerang.
Salah satu solusi tentu
saja pengentrolan para guru terhadap media social yang sangat berpengaruh bagi
kualitas seorang santri.
Reuni akbar adalah momen
yang tepat untuk menyampaikan masukan dan saran karena Salah satu tujuan reuni
akbar ini merajut kembali tali silaturrahim antar Alumni, para ustadz dan
ustadzah, dan santriwan dan santriwati. Memperkokoh kembali rasa persaudaraan,
memupuk kembali rasa kekeluargaan dan membangkit rasa solidaritas serta membentuk
persatuan dan kesatuan Alumni dan seluru yang memiliki hubungan dengan lembaga
tersebut.
Keberadaan Alumni pada
reuni akbar bukanlah semata-mata untuk ketemu kangen dan melepaskan kerinduan
tapi reuni ini harus kita jadikan sebuah media pelantara untuk menyampaikan
berbagai masukan dan saran pada Almamater tercinta. Yang menjadi pertanyaan
“apakah lembaga dan sipitas akademika mampu mendengar dan mewujudkan
masukan-masukan dari para Alumni?” sebab sering kali masukan-masukan terabaikan
karena masukan itu dianggap kurang sejalan, perlu di ketahui bahwa perbedaan
itu karena ada. Yang menjadi PR bagaimana menjadikan perbedaan itu suatu
kekuatan besar bagi kemajuan pondok sesuai selogan Kota Lubuklinggau tempat
lokasi pesantren Al-Azhaar yaitu “mewujudkan lubuklinggau yang madani”.
Melihat respon para
Alumni sangat mendukung jika diadakan Reuni Akbar tapi bisakah momentum ini
menjadi awal kemajuan bagi pesantren Al-Azhaar dan memberi manfaat bagi pondok
pesantren dan para alumni serta menjadi solusi bagi pimpinan pondok dan para ustadz
dan ustadzah.
·
Penulis adalah Alumni Pondok pesantren Al-Azhaar tahun
2012
·
Penulis adalah Alumni Smp-It Al-Azhaar dan MA Darul
Ishlah
·
Penulis pernah menjadi Banansa dan Bapena (IKSAL)
·
Penulis pernah menjadi Anggota dan pengurus JET KUN DO
Sasana Al-Azhaar