Di Sebuah Desa
Saat ini suasana desa yang subur dengan
penghasilan kebun yang melimpah rua, orang-orang penduduk desa yang penuh rama
tama dan sopan santun yang baik. Padi-padi hijau ranau pada petakan sawa-sawa
milik penduduk asli desa menjadi hiasan mata bagaikan negeri yang penuh berkah
dan terhindar dari bencana. Terlihat dari kejauhan mata memandang kebun-kebun
petani yang subur dengan beragam macam jenis tanaman pangan, seperti tanaman
padi, gandum,jagung, buah-buahan dan sayur-sayuran yang sangat menggembirakan
hati bila di bandingkan melihat gedung-gedung dan ruko-ruko yang menjulang
tinggi diperkotaan penuh dengan polusi.
Setiap hari orang-orang penduduk desa
bekerja diperkebunan milik mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka. Biasanya
mereka pergi pagi-pagi sekali seuasi sholat subuh dan sebelum mata hari terbit
di upuk timur mereka sudah ramai dijalan-jalan menuju perkebunan milik mereka
itu. sambil berbincang-bincang mereka dengan semangatnya bergegas tanpa jedah berjalan menuju kehidupan di perkebunan.
Bila siang datang suasana desapun sepi
dan sunyi tanpa penghuni hingga mereka kembali. Suasana cuaca yang stabil
kadang hujan dan kadang panas yang juga menimbulkan masalah bagi penduduk desa
itu. dengan cuaca yang tidak menentu kadang merugikan petani desa untuk panen
hasil perkebunan mereka. Jika hujan terlalu sering maka tanaman sangat subur
tapi, penduduk sulit untuk berjalan menuju perkebunan yang di tempu setiap hari
karena bila air hujan turun maka tanah akan becek dan berair sehingga akses
jalan rusak dan dapat membuat mereka terlambat sampai ke kebun mereka sehingga
hama-hama tanamanpun sudah lebih dahulu sampai dikebun dan memakan tanaman isi
kebun milik petani. Hal ini tentu membuat petani resah dan gelisa sepanjang
musim hujan meski tanaman yang mereka tanam sangat subur kala itu.
Bila kemaraupun tiba matahari sangat
menyengat sampai ketulang jalan-jalanpun berdebu dan angin bertiup kencang
serta bergulung-gulung bersama debu-debu bagaikan dipadang pasir di negara
mesir. di sebuah desa yang dekat perairan dan perhutanan ini telah membuatku senang
dan bahagia. Aku berenang setiap hari di sungai itu bersama teman-teman
kecilku. Mereka selalu ceria dan sangat piawai dalam berenang di air sungai.
Anak-anak penduduk desa sangat kreatif
sekali mereka bisa memanfaatkan alam yang ada di sekitar mereka untuk bermain
dan olahraga seperti bermain bola api pada malam hari dengan menggunakan buah
kelapa. mereka berolahraga renang disungai yang sangat menantang karena
kadang-kadang di sungai yang airnya tidak terlalu deras muncul binatang
pemangsa daging seperti buaya, ular dan anakonda, semuanya itu tentu sangat
menakutkan bagi orang-orang yang tidak memiliki keberanian yang tinggi dan
bernyali besar. Seringkali seekor buaya
terlihat oleh penduduk memakan itik yang sedang berenang mencari makan di
sungai milik penduduk setempat dan terkadang angsapun habis.
Suatu hari aku berjalan bersama
kawan-kawan dipinggiran sungai, tiba-tiba ada suara itik yang menjerit
kesakitan”wek,wek,wek” seekor itik yang sedang dalam mangsaan buaya sungai
kamipun ikut merinding. Pelan-pelan kami melangkahkan kaki menuju suara seekor
itik yang kesakitan di mangsa buaya.
“klepak,klepak” seekor buaya turun keair
setelah memakan seekor itik penduduk kampung. Tubuhku gemetar, bibirku kaku,
wajahku pucat bagaikan di setrum arus listrik atau seperti saat malaikat
mencabut ruh dari tubuh. Aku takut dan terkejut melihat seekor buaya yang
sangat besar usai menelan seekor bebek milik penduduk kampung. Namun ketakutan
itu tidak berlangsung lama.”ah, melihat buaya saja takut, bagaimana kalau
buayanya memakan kamu? !“ ujar salah seorang dari teman kecilku yang sudah
terbiasa melihat kejadian itu. akupun jadi gengsi dengan mereka yang sangat berani
dan setia menemani dalam keadaan apapun.
“huss!” siapa takut enggak ah,aku enggak
takut Cuma kaget aja”ujarku pada mereka berkelit. Mungkin karna aku baru kali
ini melihatnya. “ya,ya”ujar teman-temanku.
Lalu kami melanjutkan perjalanan
menelusuri pinggir sungai itu. aku selalu berada dipaling pinggir sehingga
terasa wawas sepanjang perjalanan itu. selama perjalanan itu tak jarang kami
melihat gerombolan ikan yang meloncat kepermukaan air. Aku sangat gembira bila
melihatnya meloncat seakan ikan-ikan itu menari dan bernyanyi bersama dalam
suasana bahagia.
”wuss!” burung bangau dan burung-burung
pemakan ikan terbang melayang menuju kawanan ikan yang meloncat kepermukaan air
dan menyambarnya satu persatu untuk dimangsa. Dengan pagutnya yang panjang dan
begitu tajam serta kejelian matanya yang berkeling burung-burung pemangsa ikan
itu menerkah beberapa ikan yang sedang meloncat dalam waktu menit bahkan detik
bisa menelan banyak dari gerombolan ikan yang meloncat itu. aku semakin
penasaran melihat populasi berbagai jenis hewan di alam bebas pada perdesaan
itu.
Pagi itu hatiku terasa senang dan
bahagia sekali melihat pemandangan alam dipinggiran sungai tak kala indahnya.
Hari yang begitu cerah dengan pancaran sinar mentari yang baru memuncul dari
upuk timur begitu indah umpama belayan kasih dan sayang seorang ibu kepada
anaknya tampa pamri menyinari sepanjang hari atau seperti tuhan yang maha
pemberi kehidupan pada makhluq-Nya. senang sekali hatiku berada di sebuah
perdesaan itu yang penuh kenggunan alam dengan dihiasi berbagai macam spesies
hewan dan tumbuhan.
Seiring waktu berjalan, usiapun
bertambah. tidak terasa bahwa tanaman di kebun petani yang semula di semaikan
sekarang waktunya panen. Dimusim panen para penduduk kampung yang berkebun
bertukar hasil panen antara satu sama lainnya. Dengan akad yang disetujui,
mereka barter hasil-hasil kebun sesuka mereka dengan landasan sama-sama senang
mereka melakukannya. Terkadang mereka menyudurkan hasil perkebunan kerumahku
tanpa memintah barter namun ibuku juga selalu memberikan hasil kebunnya pada
petani lainnya yang tidak memiliki tanaman yang serupa secara tidak langsung
barter itupun berlaku secara sistematis. “wah” ternya di pedesaan itu penuh dengan
kedamaian, kerja sama, saling peduli sesama, dan penuh kekeluargaan. kejadian
di perdesaan sungguh jauh berbeda dengan wilayah perkotaan yang semua
orang-orang sibuk masing-masing dan kurang kepedulian antar sesama.
Setiap usai menaksanakan sholat maghrib
semua penduduk desa berkumpul bersama keluarganya masing-masing bertukar cerita
dalam penuh humoris dan keharmonisan yang memancarkan dalam suasana malam.
Tanah yang subur di perdesaan itu membuat semua jenis tumbuhan tumbuh dan
berkembang. Di perdesaan itu selain menghasilkan sayur-sayuran pertriwulan juga
memiliki buah-buahan musiman sehingga dengan demikian warga desa dapat memenuhi
kebutuhan. Kebanyakan penduduk desa lebih senang diam di kebun dari pada
tinggal di rumah mereka karena di kebun suasananya lebih menyejukkan dan
menyenangkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar