Kamis, 03 April 2014

CERPEN "Di Sebuah Desa" Oleh Dersa Subarta



Di Sebuah Desa
Saat ini suasana desa yang subur dengan penghasilan kebun yang melimpah rua, orang-orang penduduk desa yang penuh rama tama dan sopan santun yang baik. Padi-padi hijau ranau pada petakan sawa-sawa milik penduduk asli desa menjadi hiasan mata bagaikan negeri yang penuh berkah dan terhindar dari bencana. Terlihat dari kejauhan mata memandang kebun-kebun petani yang subur dengan beragam macam jenis tanaman pangan, seperti tanaman padi, gandum,jagung, buah-buahan dan sayur-sayuran yang sangat menggembirakan hati bila di bandingkan melihat gedung-gedung dan ruko-ruko yang menjulang tinggi diperkotaan penuh dengan polusi.
Setiap hari orang-orang penduduk desa bekerja diperkebunan milik mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka. Biasanya mereka pergi pagi-pagi sekali seuasi sholat subuh dan sebelum mata hari terbit di upuk timur mereka sudah ramai dijalan-jalan menuju perkebunan milik mereka itu. sambil berbincang-bincang mereka dengan semangatnya bergegas tanpa jedah  berjalan menuju kehidupan di perkebunan.
Bila siang datang suasana desapun sepi dan sunyi tanpa penghuni hingga mereka kembali. Suasana cuaca yang stabil kadang hujan dan kadang panas yang juga menimbulkan masalah bagi penduduk desa itu. dengan cuaca yang tidak menentu kadang merugikan petani desa untuk panen hasil perkebunan mereka. Jika hujan terlalu sering maka tanaman sangat subur tapi, penduduk sulit untuk berjalan menuju perkebunan yang di tempu setiap hari karena bila air hujan turun maka tanah akan becek dan berair sehingga akses jalan rusak dan dapat membuat mereka terlambat sampai ke kebun mereka sehingga hama-hama tanamanpun sudah lebih dahulu sampai dikebun dan memakan tanaman isi kebun milik petani. Hal ini tentu membuat petani resah dan gelisa sepanjang musim hujan meski tanaman yang mereka tanam sangat subur kala itu.
Bila kemaraupun tiba matahari sangat menyengat sampai ketulang jalan-jalanpun berdebu dan angin bertiup kencang serta bergulung-gulung bersama debu-debu bagaikan dipadang pasir di negara mesir. di sebuah desa yang dekat perairan dan perhutanan ini telah membuatku senang dan bahagia. Aku berenang setiap hari di sungai itu bersama teman-teman kecilku. Mereka selalu ceria dan sangat piawai dalam berenang di air sungai.
Anak-anak penduduk desa sangat kreatif sekali mereka bisa memanfaatkan alam yang ada di sekitar mereka untuk bermain dan olahraga seperti bermain bola api pada malam hari dengan menggunakan buah kelapa. mereka berolahraga renang disungai yang sangat menantang karena kadang-kadang di sungai yang airnya tidak terlalu deras muncul binatang pemangsa daging seperti buaya, ular dan anakonda, semuanya itu tentu sangat menakutkan bagi orang-orang yang tidak memiliki keberanian yang tinggi dan bernyali besar.  Seringkali seekor buaya terlihat oleh penduduk memakan itik yang sedang berenang mencari makan di sungai milik penduduk setempat dan terkadang angsapun habis.
Suatu hari aku berjalan bersama kawan-kawan dipinggiran sungai, tiba-tiba ada suara itik yang menjerit kesakitan”wek,wek,wek” seekor itik yang sedang dalam mangsaan buaya sungai kamipun ikut merinding. Pelan-pelan kami melangkahkan kaki menuju suara seekor itik yang kesakitan di mangsa buaya.
“klepak,klepak” seekor buaya turun keair setelah memakan seekor itik penduduk kampung. Tubuhku gemetar, bibirku kaku, wajahku pucat bagaikan di setrum arus listrik atau seperti saat malaikat mencabut ruh dari tubuh. Aku takut dan terkejut melihat seekor buaya yang sangat besar usai menelan seekor bebek milik penduduk kampung. Namun ketakutan itu tidak berlangsung lama.”ah, melihat buaya saja takut, bagaimana kalau buayanya memakan kamu? !“ ujar salah seorang dari teman kecilku yang sudah terbiasa melihat kejadian itu. akupun jadi gengsi dengan mereka yang sangat berani dan setia menemani dalam keadaan apapun.
“huss!” siapa takut enggak ah,aku enggak takut Cuma kaget aja”ujarku pada mereka berkelit. Mungkin karna aku baru kali ini melihatnya. “ya,ya”ujar teman-temanku.
Lalu kami melanjutkan perjalanan menelusuri pinggir sungai itu. aku selalu berada dipaling pinggir sehingga terasa wawas sepanjang perjalanan itu. selama perjalanan itu tak jarang kami melihat gerombolan ikan yang meloncat kepermukaan air. Aku sangat gembira bila melihatnya meloncat seakan ikan-ikan itu menari dan bernyanyi bersama dalam suasana bahagia.
”wuss!” burung bangau dan burung-burung pemakan ikan terbang melayang menuju kawanan ikan yang meloncat kepermukaan air dan menyambarnya satu persatu untuk dimangsa. Dengan pagutnya yang panjang dan begitu tajam serta kejelian matanya yang berkeling burung-burung pemangsa ikan itu menerkah beberapa ikan yang sedang meloncat dalam waktu menit bahkan detik bisa menelan banyak dari gerombolan ikan yang meloncat itu. aku semakin penasaran melihat populasi berbagai jenis hewan di alam bebas pada perdesaan itu.
Pagi itu hatiku terasa senang dan bahagia sekali melihat pemandangan alam dipinggiran sungai tak kala indahnya. Hari yang begitu cerah dengan pancaran sinar mentari yang baru memuncul dari upuk timur begitu indah umpama belayan kasih dan sayang seorang ibu kepada anaknya tampa pamri menyinari sepanjang hari atau seperti tuhan yang maha pemberi kehidupan pada makhluq-Nya. senang sekali hatiku berada di sebuah perdesaan itu yang penuh kenggunan alam dengan dihiasi berbagai macam spesies hewan dan tumbuhan.
Seiring waktu berjalan, usiapun bertambah. tidak terasa bahwa tanaman di kebun petani yang semula di semaikan sekarang waktunya panen. Dimusim panen para penduduk kampung yang berkebun bertukar hasil panen antara satu sama lainnya. Dengan akad yang disetujui, mereka barter hasil-hasil kebun sesuka mereka dengan landasan sama-sama senang mereka melakukannya. Terkadang mereka menyudurkan hasil perkebunan kerumahku tanpa memintah barter namun ibuku juga selalu memberikan hasil kebunnya pada petani lainnya yang tidak memiliki tanaman yang serupa secara tidak langsung barter itupun berlaku secara sistematis. “wah” ternya di pedesaan itu penuh dengan kedamaian, kerja sama, saling peduli sesama, dan penuh kekeluargaan. kejadian di perdesaan sungguh jauh berbeda dengan wilayah perkotaan yang semua orang-orang sibuk masing-masing dan kurang kepedulian antar sesama.
Setiap usai menaksanakan sholat maghrib semua penduduk desa berkumpul bersama keluarganya masing-masing bertukar cerita dalam penuh humoris dan keharmonisan yang memancarkan dalam suasana malam. Tanah yang subur di perdesaan itu membuat semua jenis tumbuhan tumbuh dan berkembang. Di perdesaan itu selain menghasilkan sayur-sayuran pertriwulan juga memiliki buah-buahan musiman sehingga dengan demikian warga desa dapat memenuhi kebutuhan. Kebanyakan penduduk desa lebih senang diam di kebun dari pada tinggal di rumah mereka karena di kebun suasananya lebih menyejukkan dan menyenangkan.

Tidak ada komentar: