Mubasyaroh Cinta
Kala itu aku berjalan mencari keindahan cinta yang membuatku
semakin penasaran akan keagungan rindu dalam hasrat jiwa yang menyepi. Aku
katakan cinta padamu yang tulus tersenyum manis dihadapanku menebar bunga
asmara cinta. Di tengah-tengah kabut pagi kau datang menemuiku dengan senyuman
manis dan menyapa dengan siulan merdumu lalu burung-burungpun berkicau ceriah
melihat kau denganku bermesra ria. Akupun menjadi sangat bahagia sekali, tak
tahan rasanya inginku dekatkan tubuh ini agar tampak jelas di matamu. Wajah mu
begitu indah yang menampakkan keanggunan cinta dan berbayangkan kerinduan yang
tiada menepi. “Akankah kau jelaskan cinta padaku?” Pertanyaan ini aku lontarkan
padamu agar kau tau bahwa aku mencintaimu dengan penuh kasih dan sayang yang
begitu tulus dan penuh harapan yang begitu besar.
Lalu kau diam membisu sejenak membuatku penasaran dan dak dik duk
dihatiku menanti jawaban dari lubuk hatimu yang mungkin membingungkan bagiku,
karna itu sangat berpengaruh pada perasaan hati yang tengah suka dan dilanda
cinta yang membahana. Berlahan kau gerakkan bibir indahmu dengan perkataan yang
sopan dan lembut menjelaskan bait-bait cinta dengan perasaan malu-malu tapi mau
memungkas kata cinta itu bersama senyuman yang menawan pada wajah
ceriamu.”baiklah akanku jelaskan cinta itu hanya untukmu” kata ini kau ulang
beberapa kali agar aku benar-benar yakin hanya aku yang mendapatkan jawaban
dari hati tulusmu. Mendengar kata-kata yang terlontar dari lubuk hatimu membuat
jiwa bergelora asmara cinta indah, merpatipun turut memeriahkan pesta pertemuan
asmara cinta antara kau dan aku yang penuh bahagia. Begitulah suasana pagi itu
membuat alam bernyanyi memuncahkan rasa suka ria bersama angin kasih yang
bertiup menyejukkan dunia dengan segala harapan bahagia menampakkan kesungguhan
cinta mereka pada kedamaian pertemuan antara aku dan kau.
Ditengah-tengah hiruk-pikuk yanyian alam yang bergembira menyambut
pertemuan asmara antara aku dan kau, terdengar suara isak tangisan bayi yang
menyayup dan mendayu-dayu dari semak-semak seolah mengisyaratkan awal kehidupan
yang baru. Aku dan kau pun terdiam mencari sumber tangisan yang memiluhkan itu
dan bertanya”ada apakah gerangan?”gumamku terheran pada isak tangis bayi yang
datang mengagetkan pesta itu.
Lalu aku bisikkan kepada burung,alam,angin,dan bunga tentang suara
itu “mendengarkah kalian isak tangisan bayi itu?”tanyaku pada mereka yang
sedang berpesta pora. Merekapun satu persatu menganggukkan kepala dan
berkata”iya, ada isak tangisan bayi”. Pestapun dihentikan sejenak agar suara
itu tampak jelas di telinga namun Katika mereka terdiam dan suasana sunyi suara
isak tangisan itu pun menghilang tak tahu kenapa. Lalu alam pun berdendang
kembali memeriahkan pesta pertemuan asmara cinta kau dan aku dengan nyanyian-nyanyian
cinta. semua ceria lagi dan berdendang kembali tanpa menghiraukannya.
Waktu terus bergulir mengiringi nyanyian alam dan kicau burung yang
bersama semilir tiupan angin yang sedang berdendang di pesta pertemuan asmara
cinta itu. Tak terasa kabut pagi menghilang bergantikan hari yang cerah sinar
sang surya langitpun membiru dan awan ikut memutih menyaksikan pesta itu.
Burung-burung yang semula bernyanyi bergerak mengepakkan sayapnya dan menari di
atas udara dengan semangatnya yang menggebu berdensa bersama pasangannya
masing-masing. Tiba-tiba elangpun terbang melayang sambil memukau dunia dan
menggoncang jagat raya sehingga semuanya terdiam membisu seolah tak ada sesuatu
pun sampai siang menghilang dan mentaripun terbenam diujung upuk barat dengan
segala keresahan mereka bersembunyi memaya. Aku dan kau pun panik entah apa
yang akan dilakukan. Ditengah jingganya cahaya matahari yang terletak diupuk
barat itu terdengar suara azan yang mendayu-dayu memecah sepi,secara tiba-tiba
elangpun menghilang seketika.
Lalu akupun pulang dan kau pun kembali untuk menemui raja dan ratu
dirumah masing-masing dan mengatakan bahwa ”aku juga ingin seperti kalian
menjadi raja dan ratu pada istana kecil dan menjadi pemimpin yang penuh kasih
dan sayang serta cinta terhadap rakyat
setiaku” aku katakan pada mereka agar mereka tahu keinginanku yang mungkin
sudah saatnya aku menerima warisan tahtah dan singga sana yang semua orang akan
mengalaminya hanya satu kali dalam seumur hidupnya meski tak ada larangan untuk
berkali-kali.
Mendengarkan permintaanku merekapun tersenyum manis membahana
menebar mekar aroma bahagia menuturkan kata-kata kasih padaku yang
mengisyaratkan bahwa mereka menyetujui keinginanku meski dengan berat hati
memisahkanku dari kehidupan mereka. Mereka sangat mengerti keinginanku karna
permintaan itu memang sudah saatnya diberikan dan disematkan sabuk ikatan
pernikahan antara aku dan kau meski kita hanya bertemu sekali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar