“Bagaimana Cinta?”
Oleh : Dersa Subarta
Bagaimana ku jelaskan
cinta karena itu tak dapat di jabarkan, sesuatu yang indah terlahir dari rasa,
dan rasa itu karunia Ilahi. Malam selalu
memandangku dan memanggil hasrat dalam jiwa ini. Rasa itu pernah singgah dihati
yang penuh kegaluhan ini. Kata cinta telah menjadi ukiran disetiap hati para
remaja saat ini telah membuat hidup bercampur rasa dan karsa.
Suatu hari aku kenalkan
cinta pada diri ini dengan harapan dapat memberikan keindahan tapi ternyata
banyak duri yang menyakitkan pada cinta di tengah perjalanan, apa yang
diharapkan tak seperti dengan kenyataan. Kegaluahan datang menghantam sehingga
hati pun berbicara” inikah dunia cinta?”. “Iya ini dunia cinta” jawab hasrat
dengan menampakkan keseriusan.
“Kenapa cinta tak seindah
yang terpikir dalam benak ku ya?”Tanya hati kembali karena heran akan kenyataan
cinta yang datang. “itu karna cinta yang datang belum pada waktu yang tepat dan
membutuhkan waktu yang panjang untuk berjuang sampai cinta itu menjadi
halal”sangga hasrat dengan sepontan.
Hati terdiam memebisu merenungi kata-kata yang
dilontarkan oleh lisan hasrat,hal ini tentu akan membuatnya berpikir panjang
jika cinta itu datang dalam konteks yang sama. Pagi itu aku berjalan mendaki,
menerjal bebatuan menuju gunung kaba karna cinta yang begitu besar pada Mapala
membuatku terasa bahagia saat bersamamu.
Ku tatap matamu dari kejauhan, sehingga hasrat semakin penasaran akan
keanggunanmu dan melontarkan kata-kata indah yang penuh cita rasa bahagia. Sembari
melangkah terbayang keanggunanmu disana yang berdiri dengan mempesona akan
tetapi tempatmu begitu jauh dan
aku membutuhkan waktu yang pajang dan melelahkan untuk bersamamu Kaba.
Aku terus berjalan
mendaki dengan berjuta perasaan bahagia membuat hati menjadi gembira bersama
hasrat nan bahagia. Sepanjang perjalanan aku bernyanyi-nyanyi bersama
kawan-kawan yang sama-sama dihinggapi rasa cinta pada Kaba yang membahana.
Ditengah kebahagiaan itu tiba-tiba langit menjadi mendung dan berawan, tak lama
kemudian langit menampakkan kecemburuannya pada kami yang mencintai Kaba
sedangkan langit juga indah yang tak dihiraukan sehingga langkah tertati-tati
untuk mewujudkan rasa dan karsa pada cinta yang membuat bahagia.
Sepanjang perjalanan kami
bermandikan air mata langit yang membasahi kujuran butuh yang penuh semangat
menggapai cita pada puncak Gunung Kaba dengan harapan ada kebahagiaan padanya.
Dalam perjalanan itu
sering kali kami terjatuh mengejar waktu untuk meraih keindahan itu. Tapi apa
yang terbayang pada benak kami tidak ada pada kenyataan karena bencana selalu
menghantam. Dari langit terus bersedih mengucurkan air mata karna kepergiaan
kami menuju yang lain ,angin badai pun ikut menerpa sebagai penghalang langkah
kami namun tak sedikitpun ada rasa untuk pergi dari keindahan yang kami cintai
pada Gunung Kaba.
pada waktu itu karena
kami tidak membawa bekal yang cukup dan pakaian yang cocok pada situasi dan
kondisi kala itu.
Pada hasrat tersimpan
berjuta harapan akan keindahan yang terpancar oleh sangsurya pada pucak Gunung
Kaba karena cinta kami begitu berharga pada dunia yang menantang pengalaman
hidup dan keanggunan seni padamu Kaba. Terlintas runtukkan pada hati yang
kecewa” kenapa ya setiap cinta ini menggebu padamu Alam, langit selalu
cemburu?”.ujar hati penuh kesal pada tingkah langit yang CBU. Mendengar kata
itu langit menangis semakin keras dan memecahkan perasaan cinta menjadi
berkeping-keping bagaikan pepulauan di Indonesia yang beragam warna dan
perasaan.
“apakah ini perasaan
cinta,jika dilanda kegaluhan?”kata hasrat yang kecewa.
“tidak, cinta itu indah
dan bahagia bukan menyusah dan sengsara tapi cinta sering mengajarkan kita
untuk menikmati kesusahan dan kesengsaraan sebagai bentuk perjuangan cinta”. Sahut
rasa sebagai motivator dari dalam jiwa yang dipenuhi berbagai macam warna yang
menjadi pemisah antara cinta dan bahagia. Meski berbagai macam badai penghalang
dan dalam nya jurang pemisah kami tetap semangat sehingga pada akhirnya kami
menemukan cinta itu pada Kaba meski tak begitu indah tapi, sangat berharga
Cerpen ini adalah karya seorang mahasiswa pecinta Alam STAIS-BS sebagai seni sastra yang tertuang dalam cerita pendek tapi sangat berkesan bagi pendaki pertama pada MAPALA STAIS Bumi silampari.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar