Kamis, 23 Januari 2014

Cerpen “BAGAIMANA CINTA?” Oleh : Dersa Subarta


“Bagaimana Cinta?”




Oleh : Dersa Subarta
Bagaimana ku jelaskan cinta karena itu tak dapat di jabarkan, sesuatu yang indah terlahir dari rasa, dan rasa itu karunia Ilahi.  Malam selalu memandangku dan memanggil hasrat dalam jiwa ini. Rasa itu pernah singgah dihati yang penuh kegaluhan ini. Kata cinta telah menjadi ukiran disetiap hati para remaja saat ini telah membuat hidup bercampur rasa dan karsa. 
Suatu hari aku kenalkan cinta pada diri ini dengan harapan dapat memberikan keindahan tapi ternyata banyak duri yang menyakitkan pada cinta di tengah perjalanan, apa yang diharapkan tak seperti dengan kenyataan. Kegaluahan datang menghantam sehingga hati pun berbicara” inikah dunia cinta?”. “Iya ini dunia cinta” jawab hasrat dengan menampakkan keseriusan.

“Kenapa cinta tak seindah yang terpikir dalam benak ku ya?”Tanya hati kembali karena heran akan kenyataan cinta yang datang. “itu karna cinta yang datang belum pada waktu yang tepat dan membutuhkan waktu yang panjang untuk berjuang sampai cinta itu menjadi halal”sangga hasrat dengan sepontan. 
Hati terdiam memebisu merenungi kata-kata yang dilontarkan oleh lisan hasrat,hal ini tentu akan membuatnya berpikir panjang jika cinta itu datang dalam konteks yang sama. Pagi itu aku berjalan mendaki, menerjal bebatuan menuju gunung kaba karna cinta yang begitu besar pada Mapala membuatku terasa bahagia saat bersamamu.  Ku tatap matamu dari kejauhan, sehingga hasrat semakin penasaran akan keanggunanmu dan melontarkan kata-kata indah yang penuh cita rasa bahagia. Sembari melangkah terbayang keanggunanmu disana yang berdiri dengan mempesona akan tetapi tempatmu begitu jauh dan aku membutuhkan waktu yang pajang dan melelahkan untuk bersamamu Kaba.

Aku terus berjalan mendaki dengan berjuta perasaan bahagia membuat hati menjadi gembira bersama hasrat nan bahagia. Sepanjang perjalanan aku bernyanyi-nyanyi bersama kawan-kawan yang sama-sama dihinggapi rasa cinta pada Kaba yang membahana. Ditengah kebahagiaan itu tiba-tiba langit menjadi mendung dan berawan, tak lama kemudian langit menampakkan kecemburuannya pada kami yang mencintai Kaba sedangkan langit juga indah yang tak dihiraukan sehingga langkah tertati-tati untuk mewujudkan rasa dan karsa pada cinta yang membuat bahagia.
Sepanjang perjalanan kami bermandikan air mata langit yang membasahi kujuran butuh yang penuh semangat menggapai cita pada puncak Gunung Kaba dengan harapan ada kebahagiaan padanya.
Dalam perjalanan itu sering kali kami terjatuh mengejar waktu untuk meraih keindahan itu. Tapi apa yang terbayang pada benak kami tidak ada pada kenyataan karena bencana selalu menghantam. Dari langit terus bersedih mengucurkan air mata karna kepergiaan kami menuju yang lain ,angin badai pun ikut menerpa sebagai penghalang langkah kami namun tak sedikitpun ada rasa untuk pergi dari keindahan yang kami cintai pada Gunung Kaba.

pada waktu itu karena kami tidak membawa bekal yang cukup dan pakaian yang cocok pada situasi dan kondisi kala itu.
Pada hasrat tersimpan berjuta harapan akan keindahan yang terpancar oleh sangsurya pada pucak Gunung Kaba karena cinta kami begitu berharga pada dunia yang menantang pengalaman hidup dan keanggunan seni padamu Kaba. Terlintas runtukkan pada hati yang kecewa” kenapa ya setiap cinta ini menggebu padamu Alam, langit selalu cemburu?”.ujar hati penuh kesal pada tingkah langit yang CBU. Mendengar kata itu langit menangis semakin keras dan memecahkan perasaan cinta menjadi berkeping-keping bagaikan pepulauan di Indonesia yang beragam warna dan perasaan.
“apakah ini perasaan cinta,jika dilanda kegaluhan?”kata hasrat yang kecewa.
“tidak, cinta itu indah dan bahagia bukan menyusah dan sengsara tapi cinta sering mengajarkan kita untuk menikmati kesusahan dan kesengsaraan sebagai bentuk perjuangan cinta”. Sahut rasa sebagai motivator dari dalam jiwa yang dipenuhi berbagai macam warna yang menjadi pemisah antara cinta dan bahagia. Meski berbagai macam badai penghalang dan dalam nya jurang pemisah kami tetap semangat sehingga pada akhirnya kami menemukan cinta itu pada Kaba meski tak begitu indah tapi, sangat berharga






   Cerpen ini adalah karya seorang mahasiswa pecinta Alam STAIS-BS sebagai seni sastra yang tertuang dalam cerita pendek tapi sangat berkesan bagi pendaki pertama pada MAPALA STAIS Bumi silampari.

Tidak ada komentar: